"Hiperrealitas" di Balik Lensa


sumber gambar: qureta.com

Cristianto Naqu, CMF*

Jarak antara emosi dan tindakan dikonstruksi oleh kekuatan cerita dan adegan dalam lensa. Cerita-cerita itu diulas dan dikemas secantik mungkin hingga semua penonton menjadi melanglangbuana terbawa perasaan (baper).

It is a huge wake call about the effects of global warming!” Semua mata tak berkedip. Hipnotis tayangan BigMovie malam ini menggerayang kelima indera para film maniak. Dengan tatapan tajam dan penuh tanda tanya, suasan menjadi senyap. Dilarang berkomentar, dilarang tertawa. Anjuran ini seakan-akan datang dari sutradara film yang tengah ditonton, Roland Emmerich.

Kekuatan soundtrack yang memback up setiap adegan yang terjadi, karakter tokoh Profesor Jake Hall (Dennis Quaid) dan Sam (Jake Gyllenhaal) serta alur interaksi setiap tokoh dalam film sejenak memberhentikan ingatan yang tadinya penuh-sesak dengan berbagai informasi dan agenda kerja. Kelelahan fisik kini pelan-pelan di-massage oleh setiap adegan dalam lensa.

Hampir tidak ada lagi spasi antara yang real dan yang tengah disimulasikan dalam film. “Semacam hiperrealitas”, kata Jean Baudrillard. Akan tetapi, hiperrealitas ini adalah sebuah alarm yang sedang diprediksi dan patut disadari. Meski dikonstruksi atau disimulasi sedemikian rupa, replika realitas ini menjadi opium sekaligus laboratorium eksperimen bagi orang yang rakus berefleksi dan berimajinasi.

Pesan di Balik Lensa

The Day After Tommorow” adalah salah satu film yang direplika dari cerita buku terlaris di tahun 1994, karya Alan Folsom. Cerita ini kemudian diangkat oleh kreator disester terbaik, Roland Emmerich. Lewat keahliannya memadukan segala aspek logis dan non-logis serta kecanggihan efek komputer yang kebanyakkan merupakan break-through dari film ini, Emmerich berhasil meraup US$ 800 juta untuk orbit filmnya di seluruh dunia.

Dalam film ini, Emmerich berusaha menggambarkan kekacauan dan bencana alam akibat lapisan ozon yang menipis. Selain itu, isu pemanasan global yang telah mencapai taraf menyundul langit juga dipakai sebagai latar awal film ini. Tornado, badai, gempa bumi, gelombang angin dan juga banjir melanda dunia dalam rentang waktu kurang lebih sama. Hal ini menuntun penonton pada kisah purba mengenai Bahtera Nuh. Kisah Air Bah ini seperti didekatkan ke kelopak mata dan menyentuh rasa. Sisi terdalam kemanusiaan penonton mampu diobrak-abrik oleh kejeniusan sang replika realitas.

Realitas yang dibalut dengan keberingasan alam disodorkan sebagai kerangka refleksi The Day After Tommorow. Menurut para ilmuwan – dalam “The Day After Tommorow” – penyebab dari segala malapetaka atau the doom’s day ini adalah manusia. Manusia menjadi episentrum goncangan alam, kedatangan the day after tommorow replika Emmerich, serta litani disester lain yang siap melahap manusia itu sendiri. Pelenyapan bumi secara perlahan-lahan akhirnya mendatangkan kata terakhir ini, “Mankind survived the last ice age. We’re certainly capable of surviving this one. The only question is, will we be able to learn from our mistakes?” Refleksi selalu ditempatkan pada penghujung hiburan kelima indera ini.

Realitas yang disajikan dalam lensa mampu memulangkan ingatan kita pada kisah purba yang direkam oleh teks-teks purba, seperti Kitab Suci atau sekedar mendongkrak ide-ide kritis kita mengenai problem-problem sosial ter-up date. Film “The Day After Tommorow” memang pertama kali dirilis pada September 2004. Akan tetapi, kuasa imajinasi film ini mengurung niat untuk pensiun waktu mengingat tema dan orientasi konten film ini selalu berdampak futuris. Refren yang terus didengungkan adalah “Pelajaran apa yang selalu dipetik di balik kisah lensa ini – katakanlah dalam film The Day After Tommorow? – “Where will you be?

Realitas Replika-an: Filosofis dan Entertaining

Selain memperkaya imajinasi sutradara sendiri, kekuatan sebuah realitas replikaan atau film juga sangat memengarui para penikmat. Setidaknya, hal pertama adalah orang diantar pada suasana sebuah kejadian atau peristiwa yang tegah di-record. Istilah baper muncul di sela-sela atau usai menyaksikan film secara keseluruhan. Tak jarang, tokoh-tokoh tertentu dipadankan dengan diri sendiri, alih-alih kata,.......seandainya, seharusnya dia seperti, saya akan, dsb. 

Kata-kata ini adalah the next chapter dari film yang berakhir. Kedok baper ini kadang sangat terlihat dalam serial film Korea. Film-film Korea memang “ber-genre” baper. Kekuatan cerita untuk membuat penonton setuju dan tidak setuju dengan keputusan tertentu dalam setiap adegan membuat makna film diperlebar dengan sendirinya.

Di samping mengantar orang jadi kebawa perasaan, hiburan lensa juga memacu daya reflektif dan kritis seseorang. Di bangku bioskop, di depan layar, atau di mana saja film ditayangkan, daya imajinasi seseorang semakin diperlebar. Orang menjadi semakin mempersiapkan banyak pertanyaan dari waktu ke waktu. Bakat filosofis – selalu bertanya – justru dikembangkan dalam sekolah yang kadang berdurasi 2 jam ini. Running time film-film tertentu kadang mencapai 9 jam, seperti film “The Lord of the Rings”.

Akan tetapi, curiosity seseorang malah diberi pemancing khas untuk memaku tubuh di tempat duduk. Hal ini tentunya dipengarui oleh keindahan penyajian dari setiap episode yang ditayangkan. Aspek filosofis ini, kadang dibawa terus hingga ke refleksi yang lebih dalam, yakni langkah selanjutnya. Orang akan berpikir lebih ke kenyataan sungguhan, jika yang difilmkan benar-benar terjadi dan bahkan orang juga akan semakin filosofis dengan memuntahkan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa orang sampai bisa menelurkan ide atau gagasan seperti yang difilmkan?”

Unsur lain yang duduk di kursi pertama orientasi industri perfilman adalah hiburan (entertaining). Pertama-tama film menggandeng unsur hiburan dalam mengemas atau menyimulasi sebuah realitas. 

Unsur hiburan adalah kualitas umum sebuah film yang dicari dan ditontonkan. Di bakul hiburan, ada aspek-aspek tertentu pada diri seorang penonton yang mulai di-dealing, seperti rasa frustrasi, capek, bosan, takut, tak bersemangat, galau serta rasa kehilangan sesuatu atau harapan. Dengan menyaksikan film-film tertentu, misalnya “ToM & Jerry”, “Soccer Dog: European Cup”, “Man On the Moon”, “An American Tail”, “Spider-Man”, “The Last Chapter”, “The Passion of Christ”, “Half Past Dead”, “Leap of Faith”, dll., orang dibangunkan kembali dari tidur mati rasa dan kegalaun tak bermusim.

Film di sini bisa menjadi oase di musim tertentu bagi orang yang merasa haus akan sebuah hiburan (entertaining), kerileksan (fun) dan inspirasi. Kebutuhan akan hiburan di saat sekarang adalah sebuah permintaan. Hal ini dipicu oleh banyaknya aktivitas dan padatnya jadwal kerja. Maka, hiburan adalah salah satu sarana normalisasi stamina dan kelelahan fisik-psikis. 

Etalase yang memajang hiburan memang menjamur, tapi setidaknya kita dapat mengonsumsi hiburan yang memang produktif dan berkasiat. Menyaksikan film adalah salah satu hiburan yang mudah dijangkau. Film sarat pesan dan memiliki karakter dealing dan oto-threatmen.

Menyaksikan realitas replikaan atau film kadang menghadirkan lebih dini kecemasan akan sesuatu yang sulit diprediksi. Kecemasan itu disimulasi dalam sebuah layar dengan latar belakang tertentu serta prediksi kemungkinan yang bakal terjadi. Atas prediksi kemungkinan-kemungkinan itu, manusia mulai dirajam dengan berbagai pertanyaan yang diarahkan ke dalam dirinya sendiri.

Di sinilah kita sebagai penikmat realitas replikaan itu ditantang untuk berbuat sesuatu. Film selalu menyajikan pesan moral tertentu. Dan, pesan ini selalu tersembunyi di antara perpindahan adegan, latar/setting serta penokohan film. Hiburan itu diciptakan untuk menghibur dan yang dihibur ikut terhibur serta menciptakan sebuah hiburan baru. Karakter ini dimuat dalam branda hiburan bernama film atau realitas replikaan.  

Cristianto Naqu, CMF, peminat film yang punya hobi travelling

Previous article
Next article

2 Comments to

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4