Songdo, Busan, dan Romantisme


sumber foto: facebook Cristianto Naku

(Sebuah Wisata Imajinasi)


Cristianto Naku, CMF

Lontar Pos.com, Jakarta - Menyinggahi Songdo merupakan salah satu impian yang saya bungkus dalam rencana perjalanan ke Korea Selatan. Kota yang terletak di kawasan Incheon itu merupakan kota dengan latar futuristik plus beragam kecanggihan teknologi.

Ketakjuban pertama terhadap kota Songdo dimulai saat saya mencicipi pintu masuk ke G-Tower, lokasi kantor Incheon Free Economic Zone (IFEZ). Sambutan hangat pun menoreh seluruh bagian inderaku, terutama hati. Saya seperti tersanjung-sanjung. Tanpa banyak cakap, saya diarahkan masuk ke ruang pertama. Awalnya saya bingung, “Kenapa semua lampu tiba-tiba dimatikan?” Sebuah pertanyaan diam.

Kota berlatar futuristik ini (baca: Songdo) menanamkan budaya internet friendly. Ini membuat siapa saja yang berpapasan dengannya menjadi kelilipan. Semua orang yang menyentuh Songdo wajib sign in atau log in. Ini sebuah instruksi sekaligus tiket masuk mencicipi pelbagai keindahan yang disuguhkan di seluruh etalase kota.

Kali ini saya tidak sendirian. Dalam jadwal saya tahun ini, saya ditemani tiga guide terbaik, yakni Elisabeth Kim Soo hyun, Yeain Woo, dan Rossa Do yeon. Ketiganya saya temui saat Indonesia mengadakan great event, tepatnya di Kota Gudeg, Yogyakarta.

Ya, Asian Youth Day (AYD). Inilah event akbar untuk kaum muda seluruh Asia. Kegiatan ini dilaksanakan selama seminggu, 1 – 7 Agustus 2017. Pokoknya kerenlah. Tapi, sudahlah, sekilas kita lupakan saja skema pertemuan ini. Ketiganya (Soo hyun, Yeain, dan Do yeon) membuka sebuah tawaran kunjungan ke Korsel. Mereka memang menganjurkan Jeju Island sebagai menu awal yang perlu dicicipi. Akan tetapi, saya justru menawarkan Songdo dan Busan sebelum ke tempat lainnya, seperti Gangnam Store – yang sering dijuluki sebagai the play ground of richman atau seperti anjuran mereka ke Pulau Jeju.

Jakarta – Incheon

Jakarta – Incheon sejatainya ditempuh dengan durasi waktu delapan atau sembilan jam. Akan tetapi, dengan kurs dapur finansial yang pas-pasan, saya lebih memilih maskapai Air Asia sebagai jembatan hubung ke Korsel. Alhasil waktu yang ditempuh juga ikut membengkak. Air Asia memang murah dan cukup nyaman. Pas buat pelancong kawakan seperti saya. Namun, dari segi waktu, rasa-rasanya cukup lama.

Tepat pukul 11.00 waktu Korsel, saya landing di bandara Internasional Incheon. Perjumpaanku dengan bandara tersibuk dan terelegan di Asia ini sungguh menyedot perhatian. Sesekali saya mencuri beberapa objek lensa yang cukup instagramable. Saya kemudian diarahkan ke kantor imigrasi.

Visa yang saya pakai bukanlah visa tourism, tapi visa visitation. Visa jenis ini membantu saya lebih lama dan safeguard berada di Korsel. Lumayanlah, selagi ada teman yang bisa back up voucher buat jalan-jalan.

Namun, kebingungan mulai muncul ketika semua instruksi di sekujur tubuh bandara kebanyakan menggunakan bahasa Korea. Ush, mampus gue! Tapi, tak usah takut kawan, orang Korea biasanya ramah dan enak diajak ngobrol.

Untuk tuna bahasa seperti saya (khususnya bahasa Korea), modal nekat bisa menjadi bekal. Satu dua kata seperti joh-eun achim (selamat pagi), ha ji ma (hentikan), jinjja (benarkah), bogosip-eo (kangen), gwaenchanh-a (apakah kamu baik-baik saja), na baegopa (saya lapar) atau neo na saranghae menjadi modal yang lumayan. Eh, dan Bahasa Inggris, itu penting sebagai ban serep.

Saya kemudian membuka beberapa chatt di KakaoTalk. Soo hyun rupanya sudah lama menunggu. Rencananya saya bakal nginep di rumah Soo hyun, soalnya dialah yang paling dekat dengan saya. Selain itu, Soo hyunlah yang paling ngotot menawarkan voucher jalan-jalan ke Korea.

Di pintu keluar terminal B bandara Internasional Incheon, Soo hyun melambaikan tangan sambil teriak. Busetacara penerimaannya gaduh banget. Semua orang di sisi kiri-kanan Soo hyun jadi panik. Inilah uniknya perjumpaan. Suasananya tak terkomentar!

Songdo – PlayStore Korsel 

Seperti halnya playstore aplikasi di screen android, Songdo kira-kira merupakan replika dari playstore kecanggihan Korsel. Pokoknya sangat elegan.

Semua kecanggihan yang ada di jantung kota ini tentu tak terlepas dari sumbangan perusahaan besar Samsung. Sejak berdiri tahun 1970-an, Samsung sudah membuka keran kemajuan Korsel. Keindahan gedung pencakar langit di sela-sela safari seakan menjadi dinding yang tak habis dipanah mata. “Jauh ke atas, jauh, jauh,” kata Bang Qodir.

Seandainya kota kecil saya seperti ini, ketiga orang yang tengah menjadi guide hari ini bisa saya ajak jalan-jalan juga. Tapi rupanya imajinasi ini hanya sampai di Jakarta. Soalnya pembangunan justru menumpuk di sana. Ya, memang susah kalau negara dikelola oleh para mafia dan bandit.

Hari ini kami mengarah ke kantor Incheon Free Economic Zone (IFEZ). Kantor ini berada tepat di bibir pantai. Letak IFEZ yang demikian justru memanjakan pengelihatan. View-nya keren banget loh! Sesuai dengan nama yang disematkan – Incheon Free Economic Zone – tempat ini tentunya steril dari kebisingan dan kabut tebal industri. Dengan kata lain, IFEZ dikemas khusus untuk memantau pergerakan berbagai fasilitas di etalase kota.

Ketika memasuki gerbang G-Tower kami semua disambut gelap gulita. Kami dilarang menyalakan gadget agar bisa menikmati suguhan animasi di kiri-kanan dinding. Satu per satu potret kota digerakkan dalam sebuah video singkat sambil diseduh penjelasan berbahasa Korea dan Inggris.

Konon, Songdo merupakan kawasan rawa-rawa. Pemerintah distrik Songdo kini justru menyulapnya menjadi beranda smart city. Nama Songdo memang belum terlalu familiar meski sudah sering nongol di berbagai klip video, seperti video Gangnam Style Psy, Running Man dan Descendant of the Sun.

Yeain mengungkapkan, Dal.Com Coffee merupakan salah satu coffee shop paling digemari pengunjung di bale-bale Songdo. Di sana suguhan kopi aneka rasa diramu khas Korsel dan dibanderol tentunya dengan harga yang sedikit kesedak. Suasana coffee shop memang enak untuk nongkrong. Sembari menyeruput segelas kopi, kita juga diawasi oleh gedung-gedung pencakar langit bersertifikat LEED. Eksperimen pembangunan Songdo menjadi kota cerdas menelan biaya setidaknya 40 miliar dollar AS (Rp 547,9 triliun).

“Ketika kami pertama kali mulai menyulapnya menjadi smart city, Songdo tidak lain hanyalah lokasi hunian biasa. Sekarang, dengan puluhan ribu orang di sana dan dengan gaya desain yang futuristik, Songdo menjadi hunian bisnis yang menjanjikan dan nyaman,” kata Wakil Presiden Eksekutif Pengembangan Gale International, Tom Murcott.

Bayangkan kawan, di sepanjang jalan, saya tidak pernah berpapasan dengan sampah. Kebersihan benar-benar dijaga di wilayah Songdo, sehingga jangan heran jika kota ini dijuluki kota cerdas. Kata cerdas disematkan bukan hanya karena kecerdasan buatan (artificial intelligent) yang diciptakan pemerintah Korea, tetapi juga karena peradaban manusianya yang terlampau jauh. Hal ini tidak terlepas dari kerja sama pemerintah dan penghuni surga kecil Songdo. Di beberapa tempat, orang bahkan sering mengibaratkan Songdo sebagai miniatur kota New York. Benarkah demikian?
         
Busan – Wallpaper Industri Korsel

Selain Songdo, ada kota lain yang tak elegan di Korsel. Namanya Busan, sebuah kota yang menjadi pusat sirkulasi ekonomi, budaya, dan pendidikan di Korsel.

Busan semacam wallpaper yang paling menarik ketika pertama kali melihat Korsel. Busan dirancang dengan profil kota pelabuhan dagang dan menjadi episentrum industri di Korsel. Seluruh nadi ekonomi-industri Korsel berpusat di kota ini.

Selain dirancang sebagai Economic Zone, Busan juga menyuguhkan pelbagai festival yang tak kalah menarik, seperti Festival Film Busan dan Festival Kembang Api. Pusat perbelanjaan dan wahana rekreasi juga ‘menggerayang’ kelima indera. Untuk sampai ke Busan, kita bisa menggunakan pesawat dari bandara Gimhae. Sedangkan jalur darat dapat ditempuh dengan metro atau subway selama dua jam dan bus selama lima jam.

Eksplorasi habis-habisan di Busan saya selesaikan bersama kedua teman saya, Do yeon dan Soo hyun. Saya dikeperkenalkan dengan dua situs wisata terkenal di Busan, yakni pulau Oryuk dan pulau Eulsuk. Pulau Oryuk memiliki cerita yang sangat menarik, dan karena itu, pulau ini menjadi simbol kota Busan.

Ketika air pasang, sejatinya kita hanya menyaksikan satu pulau sebagai maskot Busan. Akan tetapi, jika air surut, keajaiban mulai nampak di mana enam pulau ikut menyapa. Di sudut kota Busan, kita juga bisa berkelana di pusat perbelanjaan Singsegae – pusat perbelanjaan terbesar setelah Departement Store of Macy’s di New York. Ada ratusan tempat belanja yang ditata apik dalam sebuah gedung berlantai 23 itu.

Di depan pintu Singsegae, terpampang juga tulisan “Take off your fearness!” Memang seharusnya demikian ketika memasuki pasar gede seperti Singsegae. Ketakutan perlu ditanggalkan.

Industri Perfilman dan Romantisme ala Korea

Ketika menyaksikan film-film besutan sutradara sekaligus berlatar Korea Selatan, semua orang pasti terperanjat. Ada-ada saja aneka percakapan yang enak didengar dan renyah dikunyah lidah warga manapun. Misalnya, panggilan oppa, ha ji ma, nado, saranghae. Ini semua made in Korea.

Perlu diketahui, di tahun 1960-an, Korea Selatan tidak lebih dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Akan tetapi memasuki tahun 1980-an, Korea Selatan mulai berbenah. Salah satu faktor penunjang perekonomian Korsel adalah industri perfilman yang kini cukup kuat bersaing dengan film-film Hollywood.
Penulis asal Inggris sekaligus panel juri Film Kompetisi International Film Festival & Awards Macau, Lawrence Osborne, mengemukakan pendapatnya mengenai dunia perfilman. Menurutnya, berkaitan dengan industri perfilman, sejatinya kita perlu belajar banyak dari Korea Selatan. Industri perfilman Korea Selatan kini telah menyaingi industri film Hollywood.

Korea Selatan, menurutnya, berusaha meng-cover perkembangan dunia film dengan memperbanyak produksi film lokal. Korea Selatan memagari negaranya dari gempuran film Hollywood dengan cara memperbanyak produksi film dalam negeri. Dari sinilah tumbuh pesatnya pasar film Korea.

Menurut Osborne, Korea Selatan di era 1950-an bukanlah negara kaya. Saat itu, perekonomiannya di bawah Thailand, bahkan setara dengan beberapa negara di Benua Hitam. Akan tetapi, memasuki era 1970 – 1990-an, Korea Selatan semakin kaya. Melejitnya produksi film Korea kini dipayungi pemerintah. Pemerintah Korea Selatan, dalam hal ini, tak tanggung-tanggung mengucur biaya extra dalam mendukung produksi film hingga sekarang.

Film-film Korea juga menyuguhkan kesan-kesan romantis, ya mungkin supaya lebih akrab dengan suasana hati orang Asia pada umumnya. Ketika menyaksikan langsung orang-orang Korea berbicara, agaknya saya tengah bermain dalam film Love Forecast (2015). Saya hanya bisa melempar senyum sambil mengacungkan jempol ketika mereka berbicara. Rasanya hangat dan romantis.

Menegangkan

Seperti perempuan Korea lainnya, Soo hyun, Yeain, dan Do yeon selalu memperhatikan penampilan. Waktu jalan-jalan seringkali di-split hanya karena ketiganya kelamaan. Ya, maklum bagi kebanyakan perempuan Korea, make up adalah sarapan pertama sebelum mereka benar-benar sarapan. Tak lengkap jika nongkrong di tempat-tempat tertentu tanpa soju, minuman khas orang Korea. Ketika pertama kali meneguk soju, suasana hati dan pikiran serasa seperti berada di bubungan Burj Khalifa sambil memandang keindahan panorama The Palm Tree Island di Dubai.

Di Korea semua orang merasa wajib menghidangkan soju sebagai seduhan percakapan. Patut diketahui, minuman soju memiliki kadar alkohol berkisar 18–20%. Berbahaya juga kalau kebanyakan minum kawan! Tapi karena sudah terbiasa, orang-orang Korea seringkali mencampur soju dan bir. Ukh, benar-benar nikmat!

Jalan-jalan di Central Park of Gangnam Psy membuka cakrawala saya kalau Gangnam merupakan tempat bermain orang-orang kaya. Tapi, saran saya, jika Anda pingin berdua’an dengan pasangan, ya sebaiknya di Busan. Di sana suasana romantis memang disetting dengan skala Asia. Pokoknya menarik.

Saya sendiri akhirnya juga menyadari bahwa sebuah relasi perlu suasana dan tempat. Suasana sejatinya mengantar seseorang pada dalamnya relasi dan tempat menjadikan semua pembicaran dan kenangan saat ada bersama dimonumenkan. Musim dingin seperti sekarang adalah saat yang tepat menikmati seluruh keindahan negeri Gingseng.

Jeju Island, walau sudah dikemas dalam list tour akhirnya terpaksa diganti dengan kunjungan ke daerah perbatasan saudara tetangga, Korea Utara. Perjalanan kami cukup jauh ke wilayah utara dari Seoul. Akan tetapi, karena kecanggihan teknologi, berbagai hal pun disajikan secara cepat termasuk jarak tempuh perjalanan.

Kami tiba di daerah perbatasan dua Korea sekitar pukul 11.00. Empat hari sebelumnya pemimpin kedua negara itu, Kim Jong Un dan Moon Jae-in mengadakan gelar tikar membahas soal denuklirisasi dan berbagai persoalan seputar keamanan di Semenanjung Korea. Pertemuan keduanya sungguh memberi secercah sinar surya di sekujur Korean Penninsula. Kami juga disambut dengan lagu bertema mimpi perdamain dari sebuah band di Korsel: Our Wish Is Unification!

Di perbatasan, kami diperkenalkan dengan lorong kecil Zona Demiliterisasi (Demilitarized Zone), yang merupakan The Dangerous Korean Border. And maybe it was the dangerous border in the world. DMZ yang menyetrum adrenalin memberi sinyal kepada para pengunjung agar tetap hati-hati.  Safari hari ini memang menegangkan seperti halnya tegangan yang dialami kedua negara.

Panjang DMZ sekitar 150 m dan lebarnya sekitar 2,5 m. Sebelum kami diizinkan menyisir area dalam DMZ, kami diminta untuk menandatangani sebuah kertas yang bertuliskan Visitor Declaration. Beberapa isinya memuat pernyataan yang meminta persetujuan para pengunjung mengenai kaidah-kaidah tertentu, seperti potret “A Hostile Area” – Possibility of Injury or Death as Direct Result of Enemy Action. Menegangkan! Petualangan memang demikian.


Cristianto Naku, CMF, biarawan Claretian yang meminati fotografi dan travelling

Previous article
Next article

5 Comments to

  1. Wahhh daebakk.. it's amazing..South Corea is my dream country ..
    Sy sngat kagum dengan budaya d sana walaupun belum pernah kesana namun sy yakin Korea Selatan sngat luar biasa.. Bicara mengenai Busan,, wahhh sy sllu bermimpi utk smpai d kota itu.. secara Busan merupakan lokasi syuting actor Favorit sy Oppa Lee Min Ho dalam Drama x The King eternal Monarch .. ahhh sngat luar biasa .... 😍😍😍😍

    Sy selalu berharap bisa tiba juga d tempat itu dan menikmati segala keindahan dan keramahan budaya di sana...





    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih. Tanggapan yang luar biasa. Semoga suatu saat harapan utk pergi ke Koreanya terwujud. Shalom

      Delete
  2. Saya seperti sedang menjelajahi Korea saat baca ulasan ini.
    Banyak terima kasih e ka'e Joan Udu yang sudah mempublikasikan bacaan menarik ini di Lontar Pos dan banyak terima kasih untuk kakak Cristianto Natu yang sudah berbagi dengan kami.

    Dari ulasan menarik ini saya jadi tahu tentang Korea meski secara garis besarnya saja. Saya semakin cinta dengan Korea, pun dunia perfilman yang lahir dari rahim Korea itu sendiri (Drama Korea).Terkhususnya saya sangat jatuh cinta pada aktor terkeren asal Korea, Lee Minho atau sapaan manjanya: Oppa Lee Minho alias pacar halu saya hahahha).

    Korea memang indah baik dalam cerita maupun dalam drama korea yang selalu saya tonton.
    Saya punya alasan tersendiri mengapa saya penggemar berat drakor (Drama Korea)? Karena meski genre filmnya itu drama, tapi alurnya tidak melulu tentang drama yang romantis, melainkan juga tentang budaya, tradisi dan tata bahasa lokalnya. Alur ceritanya tidak monoton dan berbelit- belit seperti sinetron Indonesia. Dan pesan yang terkandung dalam drakor itu selalu sampai pada penonton. Endingnya selalu memuaskan meski ada beberapa drakor yang menggantung endingnya, tapi tak mengecewakan sama sekali. Selalu buat batin puas. Itu uniknya drakor.

    Hal menarik lain yang buat saya cinta terhadap Korea dan dunia perfilmannya adalah mereka sangat menjunjung tinggi budaya mereka. Hal itu di tunjukan melalui dunia perfilman yang mereka produksi. Mereka selalu menggunakan bahasa lokal hampir dalam semua drakor. Tak lupa pakaian lokal yang menunjukan betapa mereka bangga terhadap budaya mereka. Indah di pandang, dan bahasa lokal mereka juga enak di dengar. Cara mereka bertutur kata juga ramah. Hampir tidak ada perbedaan antara marah dan bicara normal sebab ekspresi mereka tetap ramah dan elegan sekalipun dalam keadaan marah.
    Juga hal menarik lainnya seperti pemilihan tempat terbaik tuk lokasi syuting. Sehingga kita bisa melihat seindah apa Korea. Tak lupa style mereka yang biasa saja namun terlihat elegan, dan lagi-lagi keramahan mereka. Kalau dalam drama saja sikap mereka ramah, saya percaya di dunia nyata mereka lebih ramah.
    Ah kalau bahas tentang Korea serasa tak akan ada habisnya.
    Dan akhirnya saya hanya mau mengatakan saya sangat ❤ Korea.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lebih Daebak lagiii 😂😂😂

      Delete
    2. Terima kasih kak Ririn. Tanggapan yang sangat serius dan mendalam. Slm buat semua penggemar budaya Korea.

      Delete

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4