Saintisme Tunggang Langgang

bostonreview.net

Tanggapan untuk Kawan-kawan yang Terlampau Mengglorifikasi Sains

Joan Damaiko Udu

Di tengah masifnya ekspansi Covid-19, gejala yang biasa disebut ‘saintisme’ kembali mencuat ke permukaan. Gejala ini menguat seiring munculnya gelombang klaim yang melihat sains sebagai satu-satunya “jawaban” atas seluruh persoalan hidup manusia. 

Gejala itu makin kentara dalam polemik sains baru-baru ini di media sosial Facebook, yang diinisiasi oleh Goenawan Mohamad dan A.S. Laksana, yang kemudian diikuti beberapa tokoh lain. Beberapa orang dalam polemik tersebut mengklaim sains sebagai jenis pengetahuan terbaik yang kita miliki sejauh ini. Bahkan, ada yang melihatnya sebagai representasi pengetahuan yang sempurna.

Klaim ini kurang lebih menggambarkan kredo populer saintisme: “Hanya sains yang bisa menjelaskan seluruh peristiwa alam semesta secara meyakinkan, termasuk peristiwa hidup manusia.” Posisi sains diabsolutkan sedimikian rupa, bahkan diklaim sebagai semacam jalan menuju keselamatan di Bumi. Siapa yang menguasai sains atau yang percaya pada prediksi-prediksinya akan beroleh keselamatan. Sementara mereka yang mengabaikan prediksi sains akan cederung ceroboh dan akhirnya menderita oleh karena kecerobohannya sendiri.

Klaim itu memang sulit disangkal, khususnya selama masa pandemi Covid-19 ini. Prediksi para ahli sains terbukti sangat membantu kinerja para petinggi negara, khususnya dalam mengambil kebijakan publik di masa wabah. Ini menjadi bukti bahwa sains cukup bisa menjadi tuntunan yang baik bagi hidup kita. Sampai pada titik ini, sains sungguh memudahkan kehidupan, bahkan membawa kehidupan itu pada keselamatan yang kita dambakan.

Baca Juga: Dampak Bom Atom dan Pergulatan Eksistensial Empat Fisikawan

Lantas, apakah dengan begitu, klaim saintisme bahwa “hanya sains yang mampu menjelaskan segala sesuatu secara meyakinkan” dapat dibenarkan secara nalar? Apakah cuma sains yang dapat menghasilkan bahasa yang tepat dan adekuat dalam mendeskripsikan realitas? Jika begitu, apakah itu menjadi tanda kelumpuhan agama, filsafat, atau ilmu-ilmu humaniora?

Beberapa Pertimbangan

Kita tentu tidak menampik keberhasilan sains dalam memberikan penjelasan-penjelasan revolusioner tentang alam semesta, juga tentang kehidupan manusia. Sains, khususnya dalam perkembangan dua abad terakhir, berhasil menyingkapkan visi baru mengenai kosmos serta membantu kita mengorientasikan kehidupan. Namun, klaim bahwa sains adalah segalanya, sebagaimana kredo saintisme dewasa ini, menurut saya, tidak pada tempatnya. Saya memiliki tiga alasan untuk itu.

Pertama, tidak selamanya sains memberikan jawaban meyakinkan tentang realitas. Informasi saintifik tentang Covid-19, misalnya, sekalipun cukup membantu kita mengantisipasi virus, namun seringkali kurang meyakinkan. Goenawan Mohamad, penulis “catatan pinggir” Majalah Tempo, memberikan contoh menarik perihal itu di halaman facabook-nya pada 17 Mei 2020.

“Apa yang kemarin kita ketahui tentang Covid-19,” begitu tulisnya, “hari ini tak sebulat sebelumnya. Pernah dikatakan sang virus tak akan membunuh anak-anak. Tapi baru-baru ini, di kota New York, bocah berumur lima tahun mati dengan gejala tertular. Pernah dikatakan, kita harus tinggal di rumah, tapi kemarin ada berita, di rumah pun tak ada jaminan selamat.”

Hal ini setidaknya memperlihatkan satu hal: tak selamanya para ilmuwan memberikan informasi yang meyakinkan perihal suatu gejala. Kita memang akui, sains mempunyai prinsip falsifiability, di mana kebenarannya selalu bisa diuji kembali melalui riset, eksperimen, atau uji laboratorium. Namun, bukankah itu justru menunjukkan bahwa kebenaran dalam sains itu tak pernah pasti dan final? Jika begitu, bagaimana mungkin klaim para penganut saintisme bahwa “hanya sains yang bisa menjelaskan realitas secara tepat dan meyakinkan” bisa diterima secara nalar?

Dalam sains, banyak kesimpulan riset yang dibuat berdasarkan perhitungan probabilitas. Dalam teori kuantum, misalnya, dengan prinsip ketidakpastian dari fisikawan W. Heisenberg, orang akan dikondisikan untuk mendeskripsikan gerakan partikel-partikel elementer (seperti elektron-elektron) hanya berdasarkan perhitungan probabilitas itu (Leahy, 2006:14). Alasannya, kegiatan pengukuran itu sendiri mencakup banyak fenomena yang “mengganggu” sistem yang sedang diteliti sehingga sulit dipastikan sebelumnya bagaimana sistem itu akan berevolusi.

Demikian juga fenomena auto-organisasi materi, planet-planet, makhluk hidup, dll di alam semesta tidak selalu bisa diprediksi secara pasti, sebab fenomena itu menyangkut peranan konstruktif sebuah “kebetulan” di bawah pengaruh energi. Sains jelas mampu mendeskripsikan peranan konstruktif “kebetulan” itu, namun tak bisa memprediksikannya secara pasti dan meyakinkan.

Kedua, karena sains memiliki karakteristik falsifiability dan bekerja menurut perhitungan probabilitas, maka sains tak selamanya mampu menghasilkan bahasa yang tepat dan adekuat dalam mendeskripsikan realitas. Sejak teorem Godel, yang biasa disebut teorem indesidibilitas (ketidaktertentuan), klaim “kepastian saintifik” sudah diruntuhkan.

Teorem Godel antara lain memperlihatkan bahwa dalam semua sistem yang mengandung aksiomatika bilangan-bilangan bulat, ada beberapa pernyataan yang tak bisa didemonstrasikan atau dibenarkan (Leahy, 2006:14). Ini dikarenakan tak ada fenomena-fenomena murni yang bisa membuktikan pernyataan-pernyataan teoretis tanpa mendua arti, terutama jika pernyataan-pernyataan itu bersifat kompleks. Konsekuensinya, pernyataan-pernyataan saintifik tidak selalu bisa menggambarkan realitas secara tepat dan pasti.

Ketiga, sains hanya bisa menimbulkan permasalahan makna, tetapi tak bisa memberikan jawaban meyakinkan tentang dasar ontologis makna. Mengapa ada sesuatu daripada tak ada apa-apa? Mengapa manusia harus ada dan apa maksud keberadaannya? Apa hikmah yang kita ambil dari realitas pandemi? Dari pihak sains, tak ada jawaban soal itu. Itu karena sains hanya bisa bekerja secara teknis dan operasional, misalnya untuk menyelidiki bagaimana suatu realitas muncul, berapa umurnya, unsur-unsur apa yang terkandung di dalamnya, dll.

Dari penyelidikan itu, sains bisa saja membawa kita pada suatu makna tertentu, tetapi tak pernah bisa membahasakan makna itu. Pertanyaan tentang makna segala sesuatu tak tercakup dalam metodologi sains. Itu artinya sains bukanlah segalanya, sebab nyatanya ia tak bisa menjelaskan semua hal, terutama perihal makna. Maka, saintisme menjadi tunggang langgang (semacam juggernaunt versi Anthony Giddens), bergerak tanpa kendali ke luar batas-batas metodologis sains, ketika mengklaim hanya sains yang bisa menjelaskan segala sesuatu secara meyakinkan.

Membangun Keterhubungan

Untuk menemukan makna dari sebuah gejala, diperlukan refleksi jenis lain, seperti refleksi filosofis atau refleksi religius dalam agama. Sebab makna selalu bersifat reflektif dan meta-empiris, dan sains tak dapat menjangkau itu. Oleh karena itu, di hadapan persoalan makna, kita harus menyadari keterbatasan metodologi sains. Untuk itu, sains seharusnya tak boleh merasa “cukup-diri” (self-sufficient), seperti tampak dalam saintisme, tetapi harus membangun keterhubungan dengan disiplin ilmu lain. Maka, tuntutan akan kerja sama transdisiplin menjadi mendesak di sini.

Kerja sama ini bukan bermaksud untuk menciptakan disiplin baru atau untuk merumuskan kesepakatan final, melainkan untuk melampaui keterbatasan metodologis masing-masing sekaligus untuk mencari koherensi narasi mengenai beragam gejala pengalaman manusia. Dengan demikian, upaya mencari kebenaran tak hanya menyangkut perkara objektivitas, tetapi juga melibatkan dialog metodologis dan kerja sama transdisipliner pelbagai bidang pengetahuan dalam bahasa yang dibagi bersama.

 

  

 

 

 


Previous article
Next article

4 Comments to

  1. Ya idealnya sains dan teologi harus bisa berdialog untuk menciptakan sebuah iklim yang mampu saling menghargai dan mengakui batasan-batasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, saya sepakat. Terima kasih untuk tanggapannya sdr

      Delete
  2. Pijakan yang positvistik memang perlu diperjumpakan pada aspek² pardigma lainnya, terutama dalam kerangka makna. Dalam hal ini, saya berpikir bahwa batasan ranah perlu diakui terkait kebutuhan kehidupan manusia.

    ReplyDelete

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4