Don Ihde tentang Hermeneutika dan Teknologi

zenocentre.org

Joan Damaiko Udu

Lontar Pos.com-- Hermeneutika dipahami sebagai suatu teori tentang interpretasi, sedangkan teknologi dimengerti sebagai sekumpulan artefak (the array of artifacts) yang digunakan manusia. Dari pengertian ini, barangkali muncul kesan: keduanya tampak sulit dihubungkan satu sama lain. Mengapa? Ya, karena baik hermeneutika maupun teknologi memiliki kompleksitas makna masing-masing.

Akan tetapi, jika digali secara mendalam, keduanya akan menunjukkan keterkaitan satu sama lain. Maka, ulasan sederhana ini dimaksudkan untuk memperlihatkan sejauh mana Don Ihde, filsuf sains dan teknologi dari Amerika, mengeksplorasi dan mengelaborasi keterkaitan itu, dengan mengacu pada artikelnya, Hermeneutics and Technologies, dalam buku A Companion to the Philosophy of Technology (2009).

Perihal Hermeneutika

Don Ihde memulai penelusurannya dengan pertama-tama mengelaborasi beberapa hal substansial terkait hermeneutika. Sebagaimana dijelaskan tadi, hermeneutika berfokus pada interpretasi tekstual. Dalam tradisi Barat pra-modern, hermeneutika dipraktikkan dalam rangka studi terhadap teks-teks suci, terutama teks-teks biblis. Namun, seiring perkembangan pemikiran modern pada abad ke-18, yang kemudian diikuti oleh berkembangnya “kritisisme biblis” (biblical criticism), gagasan tentang interpretasi kritis mulai berkembang dalam teori kritis yang lebih luas.

Pada abad ke-19, arus utama pemikiran ilmiah mulai mendiferensiasi disiplin ilmu ke dalam bidang dan praktik yang berbeda, yaitu ilmu-ilmu alam (sebelumnya “filsafat alam”) di satu sisi dan ilmu-ilmu manusia (human sciences) di sisi lain. Kedua disiplin ilmu ini memiliki gaya berpikir dan kerja metodologis yang berbeda.

Pembedaan itu dilakukan Wilhelm Dilthey yang membuat distingsi antara Naturwissenschaten (diinterpretasikan dengan sebuah “teori penjelasan”) dan Geisteswissenschaten (diinterpretasikan dengan “teori pemahaman”). Dalam konteks Diltheyan, hermeneutika menjadi suatu bentuk pemahaman (verstehen) dan diasosiasikan dengan manusia secara keseluruhan.

Hampir sama dengan Dilthey, Friedrich Schleiermacher secara eksplisit mengangkat hermeneutika sebagai the method of the humanities dan menjadikannya sebagai metode interpretasi yang umum dipakai manusia. Lalu, dalam perkembangan selanjutnya, pada abad ke-20, Martin Heidegger menyebut ontologi pada dirinya sendiri (ontology itself) sebagai hermeneutika dalam bukunya Being and Time (1927).  Dengan begitu, hermeneutika menjadi sebuah teori interpretasi yang berkembang luas, yang juga menjadi bagian dari “berada-dalam-dunia” (being-in-the-world). 

Keterkaitannya dengan Teknologi

Lantas, bagaimana ekspansi teori hermeneutis tersebut berkelindan dengan perkembangan teknologi? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu mulai dari pemahaman yang lama dan lebih sempit tentang hermeneutika sebagai teori yang berfokus pada teks.

Pertama-tama kita harus akui, setiap teori tentang makna tekstual selalu berkelindan dengan fakta bahwa teks diproduksi secara teknologis (text are technologically produced). Bahasa tertulis, yang menghasilkan teks, adalah hasil dari proses produksi bahasa lisan (diskursus) yang memerlukan artefak, seperti tablet dari tanah liat, papyrus, pena (stylus), tinta, dan sebagainya. Dengan demikian, sistem teknologis, yang tentu melibatkan serangkaian keterampilan manusia, termasuk di dalam proses produksi teks tersebut.

Dengan bantuan sistem itu, sebuah teks atau bahasa tulisan bisa dibaca dan diinterpretasi secara visual oleh pembaca. Dalam proses teknologis-tekstual itu, demikian Ihde, hermeneutika bertemu dengan teknologi. Pertemuan itu terjadi dalam penemuan (invention), sejarah, dan perkembangan bahasa tulisan. Ihde bahkan menegaskan: teknologi produksi tekstual membuat hermeneutika sebagai teori tentang interpretasi semakin mungkin dan penting.

Dalam era postmodern, hubungan antara perkembangan teks dan teknologi produksi tulisan itu diperdalam seiring munculnya sejumlah “palingan linguistik” (linguistic turn) dalam disiplin ilmu humanistik. Dalam perkembangan itu, para filsuf analitik melakukan analisis bahasa (dan analisis logis). Hal yang sama diikuti oleh para filsuf hermeneutik, di mana mereka melakukan palingan yang kurang lebih sama, tetapi lebih bersifat tekstual.

Akan tetapi, dalam kedua hal itu, ada hal penting yang harus dicatat bahwa teknologi menghasilkan produk akhir tulisan, yaitu teks. Hal ini, misalnya, diakui Jacques Derrida dalam gagasannya tentang ‘inskripsi’ (inscription) dan ‘jejak’ (trace) yang dia akui sebagai kumpulan “tanda” (marks) yang dihasilkan dari aktivitas yang menggunakan alat-alat dan bahan material. Hal yang sama juga diakui Bruno Latour yang mengklaim bahwa “all laboratory equipment produces inscriptions, or visible displays, also echoes, at best, the underlying technologies of production” (Pedersen dan Hendricks, 2009:181).

Mengacu pada gagasan itu, terlihat bahwa hubungan hermeneutika-teknologi terjadi dalam rangkaian proses dinamis dari hal-hal material yang perlu untuk memproduksi tulisan (baca: teknologi tulisan) sampai pada terbentuknya teks, dengan tetap melihat perlengkapan teknologis dan konteks makna yang ada dalam proses itu.

Secara tipikal, artefak-artefak teknologis yang terlibat dalam proses itu sudah dibentuk dan dirancang. Gagasan umum yang dominan tentang ‘merancang’ dan ‘membentuk’ tersebut sering memerlukan keyakinan bahwa “maksud perancang” (designer intent) harus memengaruhi makna dan penggunaan teknologi yang terlibat. Hal itu diperlukan agar teknologi dapat digunakan secara tepat dalam keberagaman konteks, penggunaan, dan lintasannya.

Jika hal itu diabaikan, akan ada rentang ketidakpastian makna yang membuat teknologi tidak digunakan menurut maksud perancangnya. Rentang ketidakpastian itu, demikian Ihde, akan menimbulkan masalah hermeneutis (hermeneutic problem). Dengan ini, Ihde hendak mengatakan bahwa teori hermeneutik tentang makna sangat penting untuk dilibatkan dalam penggunaan teknologi.

Studi Lebih Jauh

Studi lebih jauh tentang interaksi kreatif antara hermeneutika dan teknologi dapat diterapkan pula pada teks-teks klasik. Dalam rangka itu, khususnya dalam konteks literer dan tekstual, akan muncul pertanyaan-pertanyaan pokok berkaitan dengan asal-usul teks, seperti pertanyaan tentang “maksud penulis” dan juga konteks historis-kultural-sosial teks.

Pertanyaan yang sama, yang berkenaan dengan teknologi, dapat dimunculkan, yaitu berkaitan dengan “maksud perancang” (designer intent), dan juga konteks historis-kultural-sosial mulculnya teknologi. Di sini, teknologi, sama seperti teks, ditanamkan dalam suatu makna sosial. Bahwa suatu makna sosial dapat berkontribusi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan teknologi, dan karena itu, teknologi terbuka terhadap fleksibilitas interpretatif.

Tapi, dalam konteks fleksibilitas itu, apakah memang makna teks/artefak teknologis harus mengikuti maksud penulis teks/perancang artefak teknologis? Bukankah dengan begitu fleksibilitas interpretatif akan mati?

Dalam sejarah hermeneutika kritis-literer, gagasan “maksud penulis” sebagai makna dari sebuah teks memang sudah dikritik sebagai “kekeliruan intensional”. Sebab dalam interpretasi teks, ‘maksud’ penulis tidak selalu ditemukan, dan bisa saja hal-hal lain yang tidak dimaksudkan penulis muncul sebagai bagian dari jaringan makna.

Hal yang sama juga terjadi dalam sejarah teknologi, “maksud perancang” seringkali dimodifikasi secara radikal dari waktu ke waktu, bahkan diperkaya oleh hal-hal lain yang timbul akibat aktivitas penafsiran, yang tidak selalu sejalan dengan maksud penulis. Justru dengan keterbukaan pada hal-hal lain itu, fleksibilitas interpretatif menjadi hidup.

Bahkan, pemaknaan teks secara sosial akan semakin kaya dan dinamis melalui fleksibilitas itu. Oleh karena itu, pemaknaan terhadap teks/teknologi tidak harus mengikuti maksud penulis/perancang. Pemaknaan itu sangat tergantung pada intensitas penafsiran kita sendiri terhadap teks/artefak teknologis.

So, What?

Dari ulasan di atas, satu kesimpulan yang pasti bahwa apa yang kita sebut sebagai hermeneutika material (material hermeneutics) sudah berkembang sejak hermeneutika pra-modern. Perkembangan itu tentu tidak dapat dilepas-pisahkan dari peran dan pengaruh teknologi, terutama dalam proses produksi teks dan pengetahuan. Maka, secara metafor, hubungan itu dapat dibahasakan begini: hermeneutika, dengan bantuan artefak teknologis, membantu “sesuatu” (things)/materialitas “berbicara”.       


Sumber Bacaans:
Olsen, J. K. B, S. A. Pedersen, & V. F. Hendricks (editor). A Companion to the Philosophy of Technology. West Sussex: Blackell Publishing Ltd, 2009, hlm 180-183.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4