Bruno, Spinoza, dan Schelling: Filsuf-Panteis Modern?

reddit.com

Joan Udu

Giordano Bruno (1548-1600), Baruch de Spinoza (1632-1677), Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854) sering dikelompokkan sebagai filsuf-filsuf panteistik modern. Mengapa demikian? Mengapa pemikiran mereka dikatakan berciri panteistik? Bahkan tidak sekadar panteistik, tapi panteistik modern. Apa maksudnya?

Perihal Panteisme

Kata ‘panteisme’ berasal dari Bahasa Yunani, yaitu πάν (pan) yang berarti ‘semua’ dan θεός (theos) yang berarti ‘Tuhan’/dewa. Secara harfiah, panteisme diartikan sebagai aliran pemikiran yang melihat “Tuhan adalah semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”.

Menurut aliran pemikiran ini, setiap anasir alam semesta, seperti matahari, bulan, bintang, tanah, batu, pohon, binatang, manusia, dll—yang orang beragama sebut sebagai ‘ciptaan Tuhan’—identik dengan Tuhan. Semua anasir itu merupakan wajah imanen dari Tuhan yang abstrak. Dengan kata lain, menurut pandangan ini, alam semesta beserta seluruh isi di dalamnya sama dengan Tuhan. Dengan demikian, panteisme melihat bahwa realitas itu bersifat ilahi, sakral, dan religius.

Namun, perlu diingat, orang-orang panties pada umumnya tidak percaya pada Tuhan yang personal dan kreatif (yang menciptakan alam semesta beserta anasir-anasirnya), sebagaimana diimani dalam agama-agama monoteis. Inilah yang membedakan mereka dari kaum panenteis dan pandeis (tema ini akan digarap dalam tulisan lain). Dengan begitu, meskipun banyak agama mungkin mengklaim memiliki unsur-unsur panteistik, mereka sebenarnya cenderung dekat pada unsur-unsur panenteistik atau pandeistik.

Dalam sejarah pemikiran, konsep panteisme ini sudah dibicarakan sejak zaman Yunani kuno, misalnya oleh Thales, Parmenides, dan Heraklitus. Dalam Yudaisme, banyak yang mengklaim bahwa jejak pemikiran panteisme terdapat dalam Kitab Taurat, khususnya dalam kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Klaim itu didukung oleh adanya banyak naskah awal dalam tradisi Yahudi, khususnya yang berbentuk nubuat, yang merefleksikan seluruh peristiwa alam (seperti munculnya siang dan malam, terjadinya badai, meletusnya gunung berapi, membandangnya air bah, dll) sebagai pekerjaan Tuhan. Konsep panteisme di sini menemukan jejaknya manakala seluruh anasir dan peristiwa alam diidentifikasikan sebagai pekerjaan tangan Tuhan.

Namun, sebagaimana dikatakan tadi, pandangan Yudaisme, atau juga Yudeo-Kristiani, sebenarnya lebih dekat dengan panenteisme ketimbang panteisme. Sebab tradisi monoteisme Yahudi tidak melihat segala sesuatu dalam alam semesta sebagai Tuhan, tetapi hanya sebagai buah pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, seluruh anasir alam semesta bukanlah Tuhan, melainkan rangkaian ciptaan yang berada di dalam Tuhan.

Namun, sebagai sebuah sebuah aliran pemikiran, panteisme tetap saja subur, bahkan juga dalam beberapa kelompok puritan agama-agama. Paham ini jauh lebih subur lagi dalam agama-agama tradisional. Tidak hanya itu, paham ini bahkan sudah merasuk kuat dalam tradisi pemikiran modern. Bruno, Spinoza, dan Schelling termasuk dalam kelompok itu.

Panteisme Bruno, Spinoza, dan Schelling

Pemikiran Bruno, Spinoza, dan Schelling dikelompokkan dalam pemikiran panteistik karena ciri pemikiran mereka kurang lebih sama, bahwa “alam semesta identik dengan Tuhan”. Hanya saja model panteisme mereka tidak terlalu religius-mistis, tetapi lebih rasional-logis, dan bahkan idealistis. Dengan begitu, panteisme mereka lebih tepat jika dikatakan sebagai panteisme rasional.

Dalam panteisme Giordano Bruno, yang dipengaruhi oleh neo-Platonisme tradisional, alam semesta dilihat sebagai emanasi atau pancaran Tuhan. Dalam Tuhan, segala yang bertentangan dipersatukan (coincidentia oppositorum). Sama seperti Tuhan, demikian menurut Bruno, alam semesta tidak terbatas.

Namun, panteisme Bruno di sini terkesan lunak, sebab ia tidak menyamakan begitu saja alam semesta dan Tuhan. Di satu sisi, ia mengakui bahwa alam semesta identik dengan Tuhan. Akan tetapi, di sisi lain, ia membedakan dua manifestasi Tuhan: (1) Tuhan sebagai penyebab penciptaan (natura naturans) dan (2) alam semesta sebagai akibat penciptaan (natura naturata). Pengaruh konsep mekanistis dan neo-Platonisme tradisional tercium kuat di sini. Itu memudahkan kita memahami konsep ketuhanan (dan emanasi) dalam panteisme Bruno.

Lalu, bagaimana dengan Spinoza? Dengan penekanan yang kurang lebih sama, Spinoza, sang free thinker, melihat Tuhan atau alam sebagai kenyataan tunggal. Spinoza memiliki sebutan khas untuk itu: Deus sive Natura (Tuhan atau alam).

Bagi Spinoza, ‘Tuhan’ adalah sebutan yang digunakan manakala kita melihat dunia dari ‘attribute’ pikiran. Sementara ‘alam’ adalah sebutan yang digunakan manakala kita melihat dunia dari ‘attribute’ keluasan. Karena keluasan dan pikiran hanyalah ‘attribute’, maka dunia hanyalah satu substansi dengan kedua ‘attribute’ itu. Dengan demikian, Tuhan atau alam merupakan suatu kenyataan tunggal.

Panteisme Spinoza ini tidak dapat dilepas-pisahkan dari pengaruh tradisi pemikiran Yahudi yang dirintis sejak Philo yang mencoba memadukan pengetahuan dan mistik (filsafat Yunani dan agama Yahudi). Karena adanya perpaduan pengaruh ini, maka Spinoza jauh lebih tepat jika disebut panteis rasionalis (panteisme dalam pikiran) ketimbang panties religius (seperti para mistikus).

Monisme Spinoza di kemudian hari memengaruhi pemikiran F.W. Joseph Schelling pada mazhab idealisme Jerman. Kurang lebih seperti Spinoza dan Bruno, Schelling mengemukakan panteismenya dengan berkata: Roh identik dengan Alam.

Menurut Schelling, Yang Absolut dalam tatanan ideal adalah juga Yang Absolut dalam tatanan real. Maka, Roh pada dasarnya identik dengan Alam karena Alam adalah “Roh yang tampak” dan Roh adalah “Alam yang tak tampak”. Perpaduan pengaruh dari monisme Spinoza dan neo-Platonisme di sini mewarnai panteisme Schelling yang sangat rasional-idealis.

Oleh karena itu, Schelling, sama seperti Spinoza dan bruno, disebut sebagai panteis rasionalis. Konsep ketuhanan ketiganya berciri panteistik karena simpul konsep mereka menunjuk pada satu hal yang sama: “alam semesta identik dengan Tuhan”.

Sebuah Panteisme Modern

Mengingat panteisme ketiga tokoh itu berciri rasional dan ideal, maka panteisme mereka tergolong modern. Itu karena rasio (subjectum), yang diagungkan manusia abad modern, menjadi basis kekuatan dalam menjelaskan paham panteisme mereka. Itu makanya panteisme mereka tidak terlalu mengimplikasikan suatu panteisme religius-mistis sebagaimana dikembangkan dalam pemikiran-pemikiran neo-Platonisme tradisional (antara lain dalam pemikiran Plotinos) di Barat atau dalam pemikiran India di Timur.

Meskipun Bruno kelihatannya agak lembek dalam mengembangkan epistemologinya atau konsep mengenai “alam semesta yang identik dengan Tuhan”, ia tetap menekankan pentingnya rasio dalam mengetahui alam. Demikian juga Spinoza, sebagai pemikir dari mazhab rasionalisme, ia tampak cukup berani dalam mendobrak dogmatisme (sama seperti Bruno) pada masanya dengan penjelasan-penjelasan rasionalnya tentang Deus sive Natura.

Sama seperti Bruno, pandangan Spinoza kontradiktif dengan ajaran agama-agama monoteis yang melihat Allah sebagai pencipta alam semesta. Kemudian, dengan pengaruh yang besar dari monisme Spinoza, Schelling mengembangkan filsafat identitasnya (Roh identik dengan alam) dengan sangat idealistis.

Dari hal ini, apa yang bisa kita katakan? Satu hal yang pasti bahwa ciri rasional-idealistis yang tampak dalam konsep ketuhanan ketiga pemikir itu de facto menggambarkan ciri pemikiran modern. Sebagai pemikir modern, mereka menawarkan suatu “kebaruan” (moderna) dan progresivitas pemikiran kepada masyarakat sezaman, yang saat itu tengah terkungkung oleh teror-teror mitologis, prasangka-prasangka pemikiran tradisional, dan dogmatisme agama.

Oleh karena itu, selain menekankan pentingnya rasio dan subjektivitas, ciri modern dalam panteisme mereka tampak dalam sikap kritis terhadap agama. Sikap kritis itu terlihat tatkala mereka secara tegas dan berani mengkritik dan melampaui dogmatisme, wewenang tradisi, dan prasangka-prasangka pemikiran tradisional yang menyesatkan. Mereka berusaha berpikir mandiri (sapere aude), keluar dari represi tradisi dan otoritas, demi mencapai kemajuan (progress) dalam pemikiran, yang merupakan tujuan yang dituju oleh subjektivitas dan kritik.

Bruno, misalnya, menunjukkan sikap kritis itu dengan panteismenya yang jelas-jelas bertolak-belakang dengan Kitab Suci. Selain itu, ia juga mengkritik ajaran yang memutlakkan iman dari kaum Lutheran dan Kalvinis sekaligus mencemooh dogma-dogma objektif Gereja Katolik.

Spinoza pun demikian, panteismenya kontradiktif dengan pandangan agama-agama monoteis yang melihat Tuhan sebagai yang personal dan yang kreatif, yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan ciptaan-ciptaannya. Schelling juga tiada bedanya, mengemukakan filsafat identitasnya yang jelas berbeda dengan ajaran-ajaran objektif dalam agama-agama monoteis.

Maka, mengacu pada alasan-alasan itu, panteisme ketiga pemikir itu layak disebut panteisme modern karena mereka menekankan pentingnya peran rasio dan subjektivitas, kebebasan berpikir, kritik, serta progress sebagai tujuan dari semua usaha itu. Karena itu, mereka pun akhirnya dikenang sebagai para filsuf-panteis modern.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4