Natal dan Hikmah Sebuah Kehilangan (Cerpen Jellin Nggarang)

theasianparent.com


Ia tersadar dan ia sungguh ketakutan. Ia mendengar suara memanggilnya dari arah pintu kamarnya. Ia berani bergegas ke arah pintu dan membukanya.

Ketika ia membuka pintu, tak ada siapa-siapa, kecuali bayangan anaknya yang telah meninggal satu tahun yang lalu. Mereka saling menatap, seakan ia sedang melihat fisik anaknya. Tetapi tak sekata pun terucap dari mulutnya.

Setelah lama saling menatap, bayangan itu menghilang. Sisa hujan air mata menemaninya. Ia hampir pingsan di tempat ia berdiri.

Kehadiran bayangan anaknya tak sanggup membayar kehilangannya. Kesedihan itu tak pernah pergi meninggalkannya. Rasa kehilangan semakin menyiksa batinnya dari hari ke hari.

Ia mencoba bangkit kembali dan memberikan keyakinan pada dirinya sendiri bahwa jasad anaknya memang ada di luar sana, tapi hati dan jiwanya ada di hatinya. Keyakinan itu menguatkannya.

“Bukankah orang baik tak pernah mati, nak? Hanya jasadmu saja yang pergi, tapi kamu tetap hidup di hati ibu yang selalu mencintaimu. Ibu akan selalu menemani dan merawatmu dalam hati ibu. Meski ibu tak lagi melihatmu secara fisik, ibu merasa tetap bisa memelukmu, sekalipun hanya dalam hati. Ibu memang sungguh merasa kehilangan dengan kepergianmu, tetapi ibu mencoba selalu tegar agar orang-orang tidak terlalu mengkhawatirkan ibu.”

Kepergian anaknya merupakan kehilangan yang begitu berat baginya. Apalagi saat Natal pertama tanpa kehadiran anaknya di tahun lalu. Saat itu ia bahkan tak bisa berhenti menangis. Entahlah, rasanya masih tak percaya bahwa anaknya sudah tiada. Bahwa anaknya sudah benar-benar meninggal dunia, benar-benar meninggalkannya, meninggalkan suaminya, dan meninggalkan semua orang.

Ia berpikir, tentu anaknya tahu kebiasaan mereka di setiap Natal, yaitu salam-salaman. Ia salaman dengan suaminya, anaknya salaman dengannya dan dengan suaminya. Tetapi, saat itu, sepulang sembahyang, begitu ia membuka pintu, air mata kembali menetes. Ia tak sanggup lagi menahannya lebih lama.

Ia pun tak sanggup berkata-kata. Hingga cukup lama ia berusaha menata perasaannya dan mencoba menerima bahwa anaknya telah pergi untuk selamanya.

Akan tetapi, saat memulai acara salaman, tangis itu kembali pecah. Lama baru ia bisa menguasai emosi dalam dadanya. Namun, kali itu, bukan hanya ia yang menangis. Suami dan anggota keluarganya yang lain pun ikut menangis karena kehilangan anaknya. Saat itu ia dan suaminya menikmati Natal dengan menangis.

Mereka saling menguatkan saat menyadari kembali bahwa mereka tidak lagi memiliki anak mereka. Mereka tidak lagi bersamanya seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka meyakinkan diri bahwa kepergian anak itu membuat mereka lebih dekat dengan Tuhan. Itulah hikmah yang tertinggal bagi mereka.

Kata-kata penuh iman ini yang membuat ia dan suaminya semakin tegar menghadapi situasi ini: “Hai maut, dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu? Kami bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan kepada kami melalui Tuhan kami, Yesus Kristus.

Jellin Nggarang, Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unika Santu Paulus Ruteng, Flores, NTT.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4