Markus dan Umpatan-umpatannya (Cerpen Hilarius Darson)

harnas.co


Dari sebuah rumah di ujung kampung, terdengar suara amukan seorang laki-laki, menyebut nama beberapa orang. Tetapi, anehnya, rumah itu seperti tidak berpenghuni. Halaman sekitar tidak pernah dibersihkan. Rumput-rumput meninggi. Pintu depan dan belakang jarang dibuka. Rumah itu tak punya tanda-tanda kehidupan. Tetapi, raungan seorang lelaki selalu terdengar dari sana. Semakin hari semakin geram dan menakutkan.

Nama yang selalu terdengar adalah Tua Golo dan nama dua warga kampung lainnya. Semua orang jadi heran, mengapa nama yang sama terus yang disebutkan.

***
Markus Ambut. Ia adalah lelaki berumur sekitar 30-an tahun. Badannya tinggi, berotot, dan kekar. Ia  beristeri, tetapi belum punya anak.

Suatu malam, entah kenapa, Markus didapati istrinya sedang komat-kamit sendiri di ruang tamu. Ia asyik ngobrol dengan dirinya sendiri, berteriak tak jelas, lalu tertawa sendiri. Tak biasanya ia bertingkah seperti itu.

Tak lama kemudian, setelah lelah ngobrol dengan dirinya sendiri, Markus tertidur. Istrinya membiarkannya lelap di ruang tamu. Ia pun melewati malam di ruang tamu itu, ditusuk dingin malam hingga pagi.

Istrinya berpikir, mungkin Markus sedang penat saja dan lagi butuh cara untuk menyegarkan pikirannya kembali. Itu makanya ia membiarkan Markus tidur sendiri di ruang tamu malam itu. Ia mengerti kesibukan Markus, suami kecintaannya, mengurus dan menafkahi keluarga mereka.

Keesokan paginya, sang istri mencoba membangunkan Markus. Sebab tidak biasanya Markus bangun kesiangan. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 07.00, tetapi Markus belum bangun juga. Istrinya begitu khawatir dengan kondisi Markus.

Di luar dugaan istrinya, setelah dibangunkan, Markus kumat lagi. Ia bicara tak jelas, komat-kamit sendiri. Ia bahkan tak menghiraukan istrinya. Ia terus asyik dengan dirinya sendiri.

Istrinya mulai curiga, jangan-jangan Markus mengalami gangguan jiwa. Ia sudah tak nyambung lagi diajak bicara. Istrinya kebingungan, entah apa yang terjadi pada Markus. Tak pernah sekali pun Markus menunjukkan tingkah seperti ini sebelumnya.

Bahkan, pagi ini, tak puas bicara sendiri di rumahnya, Markus berlangkah ke tengah kampung, lalu berteriak tak jelas. “Mampuslah kalian semua…hahaha”, teriak markus dari halaman kampung sambil mengacungkan dua tangan ke atas.

Semua warga kampung tampak keheranan. Mereka mencoba menebak-nebak tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Markus. Di mata mereka, Markus begitu aneh hari itu. Markus yang dikenal pendiam, sopan, rendah hati, dan baik kepada semua orang tiba-tiba berubah menjadi orang sinting hari itu, berteriak-teriak tak jelas di tengah kampung.

Bahkan, menurut Tua Golo, Markus termasuk orang yang punya perhatian besar terhadap kampung dan sering mengikuti kegiatan sosial di kampung mereka. Tak pernah sekali pun ia absen dari kegiatan-kegiatan bersama di kampung. Ia termasuk “warga teladan” di kampung mereka.

Tetapi, pagi ini, Markus mendadak berubah. Semua warga kampung kebingungan, termasuk Tua Golo. Markus berteriak tak henti di tengah kampung, cekikikan sendiri, marah-marah, tanpa alasan yang jelas. Hujan yang mengguyur deras di kampung itu dan membasahi tubuhnya tak dihiraukannya. Ia terus asyik dengan dirinya sendiri.   

Sebentar-sebentar ia berlari, sebentar-sebentar berjalan pelan, dan sebentar-sebentar duduk bersila di atas batu di halaman kampung. Mulutnya tak henti komat kamit, seperti orang yang lagi membaca doa atau merapal mantra. Orang di kampung itu hanya melihatnya dari jendela rumah masing-masing, takut kalau-kalau Markus menyerang mereka.

Mampuslah kalian semua...hahaha”, teriakan itu selalu ia ulang-ulang, seakan menjadi refrain dari komat-kamitnya.

Setelah berhari-hari Markus bertingkah aneh seperti itu, warga kampung makin yakin kalau Markus mengalami gangguan jiwa. Itu juga dibaca Tua Golo, yang ikut dibikin bingung oleh tingkah Markus hari-hari ini. Markus, menurut Tua Golo, harus diamankan secepatnya demi menjaga kenyamanan seluruh warga kampung.

Apalagi, sehari sebelumnya, ada kejadian mengerikan: seorang warga dikejar Markus saat pulang dari kebun. Markus mengejarnya sambil mengacungkan parang. Jika saja warga itu tak gesit berlari, nyawanya mungkin sudah direnggut parang Markus. Kejadian ini membuat semua warga kampung ketakutan dan juga geram sama Markus.

Karena kejadian itu, banyak warga yang mengadu ke Tua Golo, meminta supaya Markus dipasung. Tua Golo pun akhirnya memutuskan untuk mengadakan rapat adat, tepat pada malam harinya. Agenda utamanya tak lain untuk menyikapi Markus.
 
Setelah melewati diskusi yang cukup lama, para pemangku adat dan sebagian besar warga kampung akhirnya sampai pada satu keputusan: Markus dipasung, agar warga kampung hidup aman kembali.  

Keesokannya, terdengar kehebohan baru yang dilakukan Markus. Satu petak sawah milik seorang warga yang sudah ditanami padi hancur dibajak Markus. Pemiliknya geram, tapi tak kuasa membendung tingkah nakal Markus.

Mendengar itu, para pemuda dan orang tua di kampung itu berlari tumpah ruah ke sawah, dipimpin oleh Tua Golo. Gemuruh teriakan keras mereka mencoba menakut-nakuti Markus. Tetapi Markus tak ambil pusing. Ia duduk di atas batu besar di tengah sawah, lalu menengadah, sambil sesekali tertawa.

Warga dan Tua Golo semakin geram. Mereka bersiaga menangkap Markus, untuk kemudian memasungnya. Melihat itu, Markus terkejut, lalu seketika berlari di sepanjang pematang sawah itu. Ia melesat bak kilat, tak terkejari warga, lalu menyeberangi sebuah sungai yang deras arusnya, dekat persawahan itu.  

Biasanya, pada musim hujan seperti ini tidak ada yang berani menyebrangi sungai itu. Warga yang mengejar pun akhirnya berhenti di pinggir sungai. Mereka berseberangan dengan Markus. Tak ada satu pun yang berani mencoba melewati air deras itu. Sementara di seberang sungai, Markus terus menikmati hujan, sambil komat-kamit, mengolok-olok warga, dan sesekali tertawa. Warga dan Tua Golo semakin geram melihat itu. Misi mereka untuk menangkap dan memasung Markus hari itu gagal dan berantakan.

Kayu besar yang disiapkan untuk memasung Markus diletakkan di sebuah batu besar di tengah kampung, sampai Markus berhasil ditangkap. Mereka terpaksa harus menyiapkan strategi baru untuk menangkap dan memasung Markus. Sementara mulai saat itu Markus tidak kembali ke kampung. Entah berada di mana.

Tetapi, beberapa hari kemudian, seorang warga diam-diam mengetahui keberadaan Markus. Ia lalu memberitahukannya kepada warga lain dan Tua Golo, bahwa Markus sedang berada di rumah tua miliknya, yang terletak di ujung kampung.

Maka, di bawah pimpinan Tua Golo, semua orang berhamburan mendekati rumahnya. Ini menjadi kesempatan bagi warga untuk menangkapnya. Semua laki-laki muda dan tua mengelilingi rumah tua milik Markus.

Markus lagi-lagi terkejut, tetapi kali ini ia kesulitan mendapatkan celah untuk melarikan diri. Semua warga sudah mengepung rumahnya. Ia terdesak dan hanya bisa mengamuk tak jelas, lalu membanting beberapa benda di rumah tua itu. Warga lalu masuk dan meringkusnya. Markus tak berkutik sama sekali. Dua tangannya yang berotot dan kekar tak bisa berbuat apa-apa di hadapan kekuatan massa di kampung itu. Ia pasrah dan membiarkan dirinya dipasung.

Sebelum dipasangkan kayu pasung, Tua golo dan dua warga lainnya mengikat tangannya. Hingga ia tak bisa bergerak lagi. Hanya mulutnya yang mampu melawan, meronta-ronta, berteriak-teriak tak karuan.

Setelah Markus tak mampu lagi begerak, Tua Golo dan semua warga kampung membuat upacara pemasungan, ditandai dengan dipasangnya dua balok besar untuk mengikat kakinya, agar tidak berkeliaran dan membahayakan warga kampung. Tua Golo dan dua warga lain yang mengikat kedua kakinya banyak berperan dalam upacara pemasungan itu. Merekalah yang menentukan keberhasilan upacara pemasungan itu.

***
Setan! Bodoh! Bodoh! Akanku cincang kalian. Maju. Ayo! Maju kalau kalian berani setan-setan. Kita akan berperang hebat hari ini. Aku balas semua tindakan kalian.”

Kata-kata umpatan itu sering terlontar dari mulut Markus, sambil menyebut nama Tua Golo dan dua warga kampung lain yang banyak berperan dalam proses pemasungannya. Kata-kata itu terucap hampir setiap hari dari rumah tua itu, dengan keras dan lantang.

Umpatan-umpatan itu selalu keluar dari mulut Markus sampai sekarang, ketika pemasungannya memasuki usia kesepuluh. Ia kini berumur 40 tahun, hidup sendiri di bilik pemasungan yang kumuh itu. Isterinya telah menikah lagi dengan laki-laki lain. Anak semata wayangnya, yang lahir ketika ia menunjukkan tanda-tanda awal gangguan jiwa, ikut bersama ibunya.

Tua Golo, yang menetapkan kebijakan untuk memasungnya, telah meninggal dunia dua tahun lalu. Tetapi namanya selalu disebutkan Markus dalam umpatan-umpatannya bersama dua orang lainnya, yang banyak berperan dalam menyukseskan pemasungannya.

Tua Golo dan dua orang itu selalu diingat sekaligus diumpatnya setiap hari. Hanya itu yang bisa ia lakukan di dalam pemasungannya, sebagai cara melampiaskan amarahnya sekaligus untuk menikmati hari-harinya yang terkekang dan menderita.

 Catatan:
Tua Golo     : kepala kampung (bahasa Manggarai, Flores-NTT)


Hilarius Darson, mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng, Flores-NTT

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4