Sinta dan Ilusi yang Ditinggalkannya (Cerpen Riko Raden)

kompasiana.com


Betapa menjenuhkannya bertahan pada cinta yang telah berhenti bertumbuh. Betapa melelahkannya mencari cara membuatmu kembali luluh. Jika kita bisa semanis dulu, setidaknya aku tidak akan merasakan pahitnya kehilanganmu. Jika memang kita sudah tak bisa bersatu, setidaknya kau katakan terus terang kepadaku perihal itu agar kita bisa mencari cara bagaimana mengatasi semua ini bersama-sama, bukannya seperti ini, pergi begitu saja, tanpa meninggalkan pesan.

Semalam aku tak bisa tidur karena selalu memikirkanmu, Sinta. Aku kira engkau akan kembali dalam pelukanku, tapi nyatanya engkau terus pergi dan tak pernah kembali lagi.

Di bawah kolong langit malam ini, aku sepi sendiri, merindukan sosokmu yang selama ini membuatku bahagia. Aku tahu mungkin kau tak akan kembali lagi. Aku sangat paham itu. Tapi setidaknya engkau mengerti isi hatiku saat ini, bahwa aku sangat mencintaimu.

Engkau pergi tanpa meninggalkan pesan yang bisa kujadikan kenangan di akhir hubungan ini. Aku sendiri sebenarnya tidak pernah ingin berpisah darimu. Sebab aku yakin engkau malaikat tanpa sayap yang selalu menerangi segala lorong gelap hidupku.

Di dalam kamar sepi ini, Sinta, aku menyendiri sembari mengingat parasmu yang cantikSeandainya engkau tak memilih pergi dengan cara seperti ini, pasti aku akan selalu bahagia. Senyum manismu selalu membuatku enggan berpaling, ingin terus menatap wajahmu. Aku tak pernah menyangka engkau akan setega ini.

Dulu saat kita masih bersama, bukankah aku pernah bilang, “Enu, kalau punya masalah, apa pun itu, ceritakan padaku. Mungkin kita bisa cari sama-sama solusinya nanti.” Aku masih ingat, saat itu kau menjawab tenang, “Baik nana, itu sudah pasti.”  

Aku percaya, kau akan terbuka padaku. Tapi nyatanya tidak. Kau pergi tanpa sebuah alasan yang jelas, tanpa meninggalkan cerita tentang sebuah masalah yang harus kita pecahkan bersama.

Aku tidak tahu apakah engkau pergi karena masalahmu terlampau besar, atau entah. Atau mungkin kau lebih memercayai orang lain untuk mengatasinya. Atau juga mungkin kau bosan dan jenuh dengan hubungan kita ini.

Waktu pertemuan terakhir di lorong itu, aku memang sudah membaca, sikapmu sudah mulai berubah Sinta, tidak seperti sebelumnya. Aku pun sempat bertanya perihal itu saat itu, tapi kau bilang tak ada apa-apa, lalu diam seribu bahasa. Aku pun jadi malu dan kemudian berpikir bagaimana mengembalikan semuanya seperti semula, saat dunia hanya berputar mengelilingi kita. Tapi, tampaknya, usahaku sia-sia, sebab engkau sudah begitu berubah. Barangkali kau sudah benar-benar bosan dengan hubungan kita ini. Itu keyakinanku waktu itu.

***
Suatu malam, aku pergi berjalan-jalan ke rumah teman. Namanya Dino. Jarak rumahnya tidak jauh dari rumahku. Di samping rumahnya, ada sebuah taman kota yang tak pernah sepi pengunjung. Setiap malam anak muda selalu ramai di situ. Ada yang duduk sendiri sambil menikmati angin malam, ada juga yang duduk berduaan dengan pacar. 

Kami sepakat untuk duduk di sebuah pojok taman, menjauhi sinar lampu. Sementara aku membetulkan posisi duduk, tiba-tiba Dino bertanya tentang hubunganku dengan Sinta. Mungkin Dino belum tahu kalau kami sudah lama berpisah. Maklum, karena selama ini aku menjaga rahasia ini supaya orang lain tidak mengolokku sebagai jomblo. Tapi kali ini aku merasa tidak perlu merahasiakannya lagi. Aku katakan sejujurnya kepada Dino bahwa aku dan Sinta sudah berpisah. Dia mengangguk, tanda mengerti, tapi ekspresi wajahnya sangat sedih.

Hampir dua jam kami duduk di taman kota ini. Jam kini sudah menunjukkan pukul dua belas. Taman pun mulai sepi, ditinggalkan satu per satu oleh para pengunjungnya. Angin malam mulai terasa dingin. Dino dan aku juga sudah mulai mengantuk. Tanpa berpikir panjang, kami mengakhiri pertemuan malam itu, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Kami menyusuri jalan setapak taman ini, bergegas menuju pintu keluar. Sunyi dan sepi. Benar-benar tak ada lagi pengunjung di taman ini. Begitu pikirku dalam hati kala itu. Namun, tanpa sengaja, aku menoleh di arah kiriku. Di sana masih ada dua manusia, duduk berpasangan. Di bawah terang lampu, mereka duduk dengan mesra. Begitu melihat kami, mereka pura-pura duduk menjauh. Mereka tidak tahu kalau aku sudah terlebih dahulu melihat mereka. Sangat mesra, pokoknya mesra sekali.

Tak lama kemudian mereka juga terlihat mau meninggalkan taman kota itu. Aku dan Dino sengaja duduk sebentar di depan pintu keluar. Tiba-tiba mereka muncul. Aku baru sadar, ternyata itu Sinta dan kekasih barunya. Aku menatap mereka lekat-lekat, dan hatiku terasa sakit. Sakit sekali.

Sinta tampak cuek, seakan tak pernah mengenalku. Kami berpapasan, tapi dia sama sekali tak menyapaku. Aku mau memanggil namanya, tapi entah kenapa aku tak bisa. Aku tercekat, tak bisa berbuat apa-apa. Dino juga tak tahu harus berbuat apa, selain hanya memberikan tatapan kosong. Sinta pun akhirnya terus bergegas, pergi dan pergi terus bersama kekasih barunya, meninggalkan kami tanpa basa-basi. Dia pergi dengan kebahagiaan barunya dan meninggalkan aku sebuah luka yang tiada bandingnya.

***
Sejak kejadian itu, aku sudah tidak pernah memikirkan Sinta lagi. Bagiku, semuanya sudah jelas, terutama alasan kepergiannya yang penuh rahasia. Selama ini aku pikir tak ada orang ketiga dalam hubungan kami. Ternyata dugaanku itu salah telak. Ternyata ada orang lain yang jauh lebih beruntung daripadaku untuk mendapatkan cinta Sinta.

Ya, biarkan Sinta pergi dengan kebahagiaannya. Jika memang sudah tak ada lagi alasan untuk bersatu, pergilah kau Sinta sejauh mungkin, sejauh yang kau mau, sampai aku merasa benar-benar sendiri dan menyembuhkan semua rasa sakit hati ini sendirian. Mungkin dengan itu aku akan lebih terbiasa untuk tidak berharap terlalu tinggi pada apa yang sebanarnya ilusi dan tak berwujud.


*Riko Raden, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, NTT. Sekarang ia tinggal di unit St. Rafael pada seminari tinggi St. Paulus Ledalero. 
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4