Salib dan Solidaritas Kemanusiaan

renunganlenterajawa.com

Joan Udu

Salah satu bagian terpenting dari “peristiwa Yesus” adalah salib. Secara teologis, salib dimaknai sebagai puncak cinta Yesus kepada Bapa dan manusia. Dalam peristiwa salib, Yesus mengorbankan diri-Nya secara total dan penuh demi keselamatan umat manusia. Ia memberikan diri-Nya secara habis-habisan: tanpa syarat, tanpa batas, dan tanpa sisa sedikit pun.

Yesus begitu mencintai Bapa di Surga dan seluruh umat manusia di bumi sampai nyawa-Nya sendiri Ia pertaruhkan. Inilah bahasa cinta yang paling sempurna, sebab tidak ada cinta yang jauh lebih besar dan dalam dari cinta seseorang yang memberikan nyawanya kepada sehabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dengan demikian, salib adalah konsekuensi dari totalitas cinta Yesus kepada Bapa dan seluruh umat manusia.

Hukuman Politis

Selain sebagai bahasa cinta yang radikal, peristiwa salib sebenarnya sarat dengan konspirasi politis, terutama jika dilihat dari sudut pandang sosio-kultural. Hukuman salib sejatinya hanya boleh diberlakukan bagi mereka yang makar dan melawan pemerintahan Romawi. Akan tetapi, hukuman ini kemudian diterapkan kepada Yesus karena kehadiran dan pewartaan-Nya dianggap mengusik kenyamanan orang-orang Yahudi, yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi.

Yesus dituduh makar dan subversif karena Ia mengaku sebagai raja dan anak Allah. Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang Yahudi, terutama para pemuka agama, untuk memprovokasi pemerintah Romawi. Yesus bahkan dituduh sebagai pemfitnah agama dan penghujat Allah. Tuduhan ini semakin meruncing dengan menggemuruhnya teriakan provokatif massa Yahudi yang begitu mencetar Pilatus, wakil pemerintah Romawi di Yerusalem: “Kami tidak mempunyai raja selain kaisar” (Yoh 19:15).

Demi menarik simpati rakyat, Pilatus akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, sekalipun de facto ia tidak menemukan kejahatan apapun pada-Nya (Yoh 18:38b). Di sini, terlihat sekali bahwa nurani Pilatus amat mudah ditelikung politik pencitraan. Ia menampilkan dirinya sebagai pemimpin populis yang memanfaatkan sentimentalitas massa demi mendapatkan keuntungan pribadi.

Ia lebih memilih “nama baik” dan dukungan politis massa ketimbang menegakkan kebenaran dan keadilan yang seharusnya menjadi prioritas. Di sini, Pilatus menjadi representasi pemimpin yang sangat pragmatis, oportunis, dan gila kuasa. Ia tahu apa yang seharusnya dilakukannya sebagai pemimpin, tetapi ia sengaja mengabaikannya demi mengamankan jabatan politisnya. Hukuman salib yang dijatuhkan kepada Yesus persis terlahir dari ketumpulan hati nurani Pilatus itu. Maka, dalam konteks ini, hukuman salib yang dialami Yesus juga dapat dilihat sebagai hukuman politis.

Peristiwa penyaliban Yesus terkesan sangat konspirasional karena terlahir dari lobi-lobi politik yang tidak sehat. Lagipula, pada masa itu, orang Yahudi hanya mengenal hukuman rajam yang khusus dijatuhkan kepada mereka yang berbuat zinah serta mereka yang melakukan subversi dan pembangkangan terhadap hukum Yahudi. Akan tetapi, hukuman yang dijatuhkan kepada Yesus kemudian berlapis: tidak hanya hukuman rajam (produk hukum Yahudi), melainkan juga hukuman salib (produk hukum Romawi). Di sini terlihat adanya konspirasi politik yang jorok antara petinggi Yahudi dan penguasa Romawi.

Atas nama ketaatan kepada penguasa Romawi, para petinggi Yahudi menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus yang sebenarnya kontraproduktif dengan materi hukum Yahudi. Maka, salib dalam konteks ini, bukanlah simbol keagungan, melainkan bahasa konspirasi politis. Salib menampilkan dengan telanjang bahwa konspirasi politik yang busuk itu amat nyata, tidak hanya pada zaman sekarang, tetapi juga pada masa hidup Yesus.

Konspirasi politik semacam itu memiliki kecenderungan bawaan, yaitu mengabaikan kebenaran dan mengedepankan ‘kepentingan politik’. Yesus, yang adalah orang benar, persis menjadi korban kepentingan politis parsial penguasa-penguasa lalim itu. Namun, dari ketabahan dan kesetiaan-Nya menanggung semua itu, Ia menunjukkan bahwa justru untuk itulah Ia datang, menderita, dan wafat di salib: Ia mau memperjuangkan nurani yang bening dan jujur.

Yesus datang untuk membongkar citra kekuasaan yang sudah lama ditimbun oleh begitu banyak kepentingan politis yang tidak sehat. Ia hendak memastikan bahwa kebenaran, keadilan, dan kejujuran masih relevan untuk diperjuangkan sekalipun dunia seringkali mengabaikan dan mencampakkan mereka. Kebangkitan Yesus pada Hari Paskah kemudian menegaskan semua itu bahwa nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kejujuran itu menang atas dunia ini.

Salib di Zaman Ini

Perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai luhur itu bahkan masih relevan untuk diperjuangkan pada zaman ini. Perjuangan itu menjadi semakin mendesak dan kontekstual saat ini sebab sudah menjadi cerita lama bahwa mereka yang mendapat mandat kekuasaan dari rakyat, entah eksekutif, legislatif, mapun yudikatif, kerap disetir oleh konspirasi politis yang jorok. Mereka menjalankan amanat rakyat tidak berdasarkan hati nurani yang bening dan jujur, sebagaimana para penguasa Yahudi dan Romawi dalam kaitannya dengan peristiwa salib Yesus, tetapi berdasarkan kepentingan-kepentingan politis yang tidak sehat.

Para penguasa kerap memproduksi kebijakan publik atas dasar kepentingan pribadi atau partai politik dalam lingkaran kekuasaan. Karena itu, ada banyak kebijakan politik yang tidak pro rakyat, bahkan tidak jarang membuat rakyat semakin menderita. Kebijakan- kebijakan politik, baik dalam skala nasional maupun lokal, sering bersifat konspirasional.

Pisau hukum juga begitu: cenderung tumpul ‘ke atas’ (kalangan elite politik dan oligarki) dan tajam ‘ke bawah’ (rakyat kecil). Kenyataan ini membuat rakyat kecil semakin terperosok, sementara kaum elite politik dan oligarki asyik menikmati kekuasaan. Di hadapan kenyataan ini, kita tidak boleh diam. Segala bentuk konspirasi politik yang jorok dan praktik manipulasi terhadap rakyat kecil harus disingkapkan dengan telanjang dan benderang. Peristiwa salib Yesus sudah memperlihatkan itu dan kini tugas itu mesti menjadi bagian dari perwujudan iman kita.

Solidaritas Kemanusiaan

Dalam mewujudkan nilai-nilai iman itu, peristiwa salib seyogianya menjadi momentum yang baik bagi kita untuk mengingat kembali nasib masyarakat dan orang-orang benar yang sering menjadi tumbal kekuasaan yang lalim dan tidak adil. Kita harus menjamin bahwa nilai-nilai salib itu betul-betul kita wujudkan secara penuh dan nyata: menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan terus merawat nurani yang jujur. Dengan demikian, peristiwa salib Yesus dapat sungguh-sungguh melahirkan solidaritas kemanusiaan yang tulus dan tanpa batas.

Perjuangan Yesus sampai ke puncak Golgota sudah seharusnya menjadi simbol perjuangan yang konsisten dalam menegakkan kemanusiaan yang adil dan beradab di zaman ini, terutama di negeri tercinta ini. Kebangkitan Yesus pada Hari Paskah pun harus menjadi kepastian definitif bagi kita bahwa nilai-nilai salib itu masih sangat relevan untuk diperjuangkan di zaman ini dan pada akhirnya akan menang atas dunia ini. Selamat Paskah!

(Tulisan ini pernah diterbitkan di Majalah HIDUP, 10-17 Mei 2015, dengan judul yang sama


Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4