Diktator Itu Bernama Covid-19

radarselatan.com

Joan Udu

Dunia saat ini sedang menghadapi sebuah kekuatan raksasa bernama virus corona atau covid-19. Per 28 Maret 2020, tercatat ada 199 negara yang sudah ditaklukkan oleh virus mematikan ini, termasuk Indonesia.

Dari segi jumlah kasus saat ini, sebagaimana dirilis Worldometers.info, Amerika Serikat merupakan negara yang paling babak belur diobrak-abrik oleh virus ini, yaitu dengan total 105,034 kasus, lalu menyusul Italia (86,498 kasus), China (81,394 kasus), Spanyol (72,248 kasus), Jerman (53,340 kasus), Iran (35,408 kasus), dan seterusnya.

Dari segi angka kematian, Italia menduduki peringkat tertinggi, yaitu dengan total 9,134 kasus kematian, lalu menyusul Spanyol (5,690 kasus kematian), China (3,295 kasus kematian), dan Iran (2,517 kasus kematian). Indonesia juga terbilang mempunyai kasus kematian yang cukup tinggi: dari total 1,155 orang yang positif (per 28 Maret 2020), 102 di antaranya meninggal dunia. Angka ini membuat Indonesia bertengger di posisi puncak sebagai negara ASEAN dengan jumlah kematian akibat virus corona terbanyak. Selain itu, Indonesia juga termasuk di dalam negara yang memiliki fatality rate tertinggi di dunia dengan angka 8,83 persen (sumut.idntimes.com, 28/3/2020).

Apa yang bisa kita katakan dari data-data ini? Satu hal yang pasti bahwa covid-19 tampak begitu kuat dan agresif dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Ia menjelma menjadi diktator yang paling ditakuti di seluruh dunia saat ini, bahkan oleh negara digdaya seperti Amerika Serikat. Tidak ada negara yang merasa hebat tatkala berhadapan dengan virus ini. Negara-negara yang kita sebut maju sekalipun terlihat begitu kelimpungan menghadang ekspansi virus ini. Dialah sosok adidaya yang sesungguhnya saat ini, bukan Amerika Serikat, bukan Rusia, bukan China, dan sebagainya.

Akibat keberingasannya, 28, 663 warga dunia mati secara mengenaskan, sementara 621,103 lainnya masih berjuang untuk hidup di tengah semakin jelasnya bayang-bayang maut yang menghantui mereka. Kita semua dibuat takut dan cemas oleh virus ini. Tidak ada yang merasa begitu aman, sebab virus ini bisa menyerang setiap orang kapan saja dan di mana saja.

Ia tidak pernah pandang bulu: entah jabatan, status sosial, profesi, tingkat pendidikan, ras, suku, agama, golongan, dll. Para tenaga medis pun, seperti dokter, perawat, bidan, dll, yang sering merasa paling tahu menyiasati atau menjinakkan virus ini, tidak pernah diistimewakannya. Apalagi kita-kita ini, yang berbekal pengetahuan yang dibagikan para tenaga medis tersebut, pasti akan dilumatnya dengan mudah dan tanpa tedeng aling-aling. Maka, jangan pernah merasa paling hebat menghadapi virus ini, apalagi meremehkannya dengan tahu dan mau.  
     
Di saat seperti ini, waspada adalah sikap yang tepat. Tapi jangan juga terlalu panik, sebab kita bisa saja nanti mati oleh karena kecerobohan kita sendiri. Maka, jika ada yang berbagi informasi di media sosial terkait cara-cara tangkas mengatasi virus ini, janganlah terlalu buru-buru untuk percaya. Biasakan diri untuk bersikap skeptis: baca dan pahami informasinya, verifikasi kebenarannya pada mereka yang lebih mengerti, cari pembandingnya pada sumber informasi yang lain, dan sebagainya. Sebab sangatlah disayangkan kalau Anda mati bukan karena keterbatasan Anda menghadang virus ini, melainkan karena kesembronoan Anda sendiri. Ingat, hidup ini cuma sekali, maka bijaksanalah mengisinya.

Mengingat pemerintah juga sudah membuat protokol terkait hal-hal yang bisa dilakukan untuk meredam penyebaran virus ini, maka ikutilah dan taatilah semua itu. Lakukan social distancing dan physical distancing bukan hanya untuk mengikuti protokol pemerintah, melainkan atas dasar keyakinan bahwa kita bisa meredam ekspansi virus ini melalui usaha-usaha itu. Jika pemerintah sudah instruksikan untuk tinggal di rumah, patuhilah itu, dan jangan membandel. Jangan sampai karena kebandelan Anda, orang lain yang hidup baik-baik terinfeksi oleh virus yang Anda tularkan.

Solidaritas sangat penting kita junjung tinggi di sini. Dalam hal ini, solidaritas itu memang bersifat paradoks. Kita dikatakan bersolider dengan orang lain manakala kita menjaga jarak dari mereka atau dengan tinggal di rumah. Kita harus membiasakan itu di tengah situasi sekarang: solider tanpa bertemu satu sama lain, bela rasa tanpa mengulurkan tangan, saling perhatian tanpa menyentuh, saling mengasihi tanpa memeluk, dan seterusnya.

Itu yang dituntut saat ini. Sekali Anda menyentuh orang lain, lalu menularkan virus kepadanya, maka pada saat yang sama Anda sudah membunuhnya pelan-pelan. Syukur kalau orang itu bisa sembuh dan pulih kembali dari serangan virus mematikan itu. Jika tidak, Anda sudah membunuhnya melalui kesembronoan Anda.

Anda mau seperti itu? Jika tidak mau, tekunlah mengisolasi diri di rumah, lakukan social and physical distancing, rajinlah cuci tangan, makanlah makanan yang bergizi, dan jangan lupa istirahat yang cukup.

Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus ini. Jika kita abai terhadap semua hal itu, maka diktator yang bernama covid-19 itu akan semakin perkasa dan tak terkalahkan, dan kita pun tinggal menunggu waktu dilumat olehnya.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4