Apa Itu Manusia, Begini Kata Søren Kierkegaard


christianitytoday.com

Joan Udu

Sejak keluar dari rahim ibu, kita sudah mulai menghayati peran sebagai manusia yang berada di dalam dunia (being-in-the-world). Kita menikmati kasih sayang dari orangtua kita, dari keluarga kita, dan dari orang kebanyakan yang ada di sekitar kita.

Kita bersyukur bahwa keluarga dan orang-orang di sekitar kita sungguh menerima dan mencintai kita sebagai manusia, bukan sebagai kucing, ayam, anjing, dll atau sebagai meja, kursi, pohon kopi, pohon cengkeh, dan sebagainya. Sekali lagi, kita bersyukur atas pengalaman yang luar biasa itu.

Jika ada yang mengalami hal sebaliknya (tidak sungguh diterima dan dicintai sebagai manusia), tentu kita sangat menyayangkannya. Hal itu tidak semestinya terjadi. Tapi tidak ada gunanya juga kita terus mengutuk pengalaman itu. Itu tidak akan mengubah apa-apa dan tidak akan bikin kita berkembang. Maka, cobalah pelan-pelan menerima pengalaman sulit itu dan mulailah manatap ke depan dengan penuh harapan dan optimisme.

Seburuk apa pun pengalaman itu, ia pasti meninggalkan hikmah untuk kita. Setidaknya, melalui pengalaman itu, kita semakin terlatih menjadi manusia: tidak hanya mengalami manisnya hidup ini, tetapi juga merasakan pahit dan getirnya. Itu memang tidak mudah, tetapi kita akan menjadi jauh lebih lega dan bahagia kalau bisa memaafkannya dan kemudian berdamai dengannya.

Saya kira justru di situlah seninya berada-di-dalam-dunia yang fana ini. Siapa pun kita, apa pun kenyataan diri kita, dan di keluarga mana pun kita dilahirkan, kita tetap harus bersyukur atas satu hal istimewa ini: kita terlahir sebagai manusia dan bukan sebagai yang lain.

Kita lantas belajar menghayati eksistensi itu, menikmati segala peluang dan risikonya, sambil terus berusaha mengenal diri dengan lebih baik, misalnya melalui kesaksian orang-orang atau seperti yang kita yakini sendiri. Kita pun mafhum bahwa “saya ini laki-laki”, “saya ini perempuan”, “saya berambut keriting”, “saya berhidung pesek”, “saya seorang yang ramah”, “saya suka sama si itu”, “saya malas bangun pagi”, “saya rajin membaca buku”, dan sebagainya. Singkatnya, berada dalam dunia (dan itu artinya berada dalam ruang dan waktu) membuat kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya: identitas gender kita, tampilan lahiriah kita, sifat-sifat kita, kecenderungan-kecenderungan kita, dan sebagainya.

Dari pengenalan diri itu, kita menjadi sadar bahwa “saya ini manusia yang khas dan unik, berbeda dari yang lain”. Meskipun ada banyak manusia lain di sekitar kita (entah laki-laki entah perempuan), kita tetap merasa bahwa “saya ini manusia yang tertentu, tidak sama saja dengan manusia yang lain”. Kita merasa begitu otentik dengan identitas kedirian kita, dan bangga dengan itu. Di sinilah, sekali lagi, kita bersyukur bahwa kita ini tidak hanya terlahir sebagai manusia, tetapi juga sungguh “menjadi” (becoming) manusia yang khas dan unik.

Kita bahagia karena kita benar-benar menjadi manusia, dan bukan yang lain: bukan binatang, bukan pohon dan tetumbuhan, dan beruntungnya lagi, bukan benda mati. Mungkin ada yang secara spontan merayakannya di depan cermin: “Yes, aku menjadi manusia, bukan menjadi binatang” atau “Tuhan, terima kasih, karena aku diciptakan sebagai manusia”. Kita betul-betul bersyukur dengan anugerah itu.

google photo
Tapi apakah kita pernah sejenak bertanya “apa itu manusia”, supaya kita tidak sekadar menjadi manusia yang terletak begitu saja di dunia? Pernahkah kita mengambil jarak dari diri kita sendiri dan lantas bertanya “mengapa aku disebut manusia, dan bukan binatang atau tetumbuhan”? Apa yang membedakan aku dari binatang dan tetumbuhan? Apa yang khas dan unik dengan ke-menjadi-an-ku sebagai manusia? Singkatnya, apakah ‘manusia’ itu?

Pernahkah kita merenungkan semua pertanyaan itu—misalnya sebelum tidur malam, waktu bangun pada pagi hari, dalam perjalanan menuju sekolah, pada kesempatan doa dan meditasi, atau di saat jeda kencan dengan kekasih? Mungkin ada yang sempat merenungkannya, tapi saya yakin itu hanya terlintas sebentar, lalu sirna dan dilupakan. Tapi kalau ada yang pernah menggelutinya dengan serius sampai-sampai lupa jam makan atau jam istirahat malamnya, saya acungi jempol. Top markotop untuk mereka!

Nah, untuk mereka yang belum sampai pada tahap itu, tak perlu terlalu khawatir. Saya sendiri belum sempat merenungkannya dengan baik. Tapi, tenanglah, ada saudara kita yang bernama Søren Kierkegaard (5 Mei 1813 — 11 November 1855) yang akan membantu kita merenungkan sekaligus menjelaskannya dengan baik dan menarik.

***
Apakah ada yang pernah mendengar nama Søren Kierkegaard sebelumnya atau mungkin pernah membaca buku hariannya yang terkenal itu, yang banyak berisi curahan hatinya tentang kekasihnya Regine Olsen (1837–1841) itu? Atau mungkin ada yang sudah pernah membaca buku-bukunya, seperti Either/Or, Fear and Trembling, The Sickness Unto Death, Philosophical Fragments, dll? Nah, kalau belum berkenalan secara mendalam dengan saudara kita yang tercinta ini, mari sekarang kita berkenalan hangat dengannya.

google photo
Saudara kita ini, yang bernama lengkap Søren Aabye Kierkegaard, adalah orang bijak dari Denmark. Orang-orang yang belajar filsafat biasa menyebutnya ‘filsuf’, khususnya ‘filsuf eksistensialis’ (tema eksistensialisme akan digarap pada kesempatan yang lain ya). Ia banyak menulis tentang manusia: apa itu manusia, mengapa ia disebut manusia, apa yang mebedakan manusia dari makhluk yang lain, bagaimana seharusnya manusia hidup, dan juga aneka pergulatan manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Menarik, bukan?

Kali ini kita hanya akan berfokus pada permenungannya tentang apa itu manusia dan apa yang membuat manusia itu khas dan unik, terbedakan dari makhluk yang lain. Kalau saja pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan kepada Aristoteles (384 SM–322 SM), orang bijak lainnya yang berasal dari Yunani, jawabannya pasti benderang: manusia adalah pengada yang berintelek/ berakal budi. Mengapa dikatakan demikian? Sebab menurut Aristoteles, unsur badan dan jiwa yang membentuk kesatuan diri manusia juga terdapat pada tetumbuhan dan binatang. Aspek yang mambuat manusia betul-betul khas dan terbedakan dari pengada lain yang lebih rendah adalah intelek/akal budi.

Dalam bukunya yang berjudul On the Soul (judul asli dalam bahasa Yunani: Peri Psychēs; terjemahan dalam bahasa Latin: De Anima), misalnya, Aristoteles menunjukkan bahwa jiwa sebagai unsur dinamis makhluk hidup terdapat pada manusia, binatang, dan juga tetumbuhan. Hanya saja jiwa pada masing-masing organisme ini bekerja untuk fungsi hidup yang berbeda-beda.

Pada tetumbuhan, jiwa menjalankan fungsi pertumbuhan dan perbiakan (threptikon); pada binatang, di samping fungsi tersebut, jiwa juga menjalankan fungsi pengamatan (aisthētikón) dan fungsi gerak dalam ruang (kinesis); lalu, pada manusia, selain menjalankan fungsi seperti pada tetumbuhan dan binatang, jiwa memiliki satu potensi yang lebih tinggi, yaitu dianoêtikon (yang menjalankan fungsi untuk berpikir/mengerti). Potensi ini dikenal sebagai intelek/akal budi (nous), suatu daya rohani yang melekat pada jiwa manusia, yang membuat manusia itu istimewa, tidak sama saja dengan binatang dan tetumbuhan. Inilah gambaran umum permenungan filosofis Aristoteles tentang organisme yang bernama manusia itu.

Nah, sekarang, kita kembali lagi kepada Kierkegaard. Apa itu manusia menurut Kierkegaard dan apa yang membuatnya betul-betul berbeda dari yang lain? Kita tentu bisa membandingkannya nanti dengan permenungan Aristoteles di atas.

Saya pastikan, ini akan menjadi sangat menarik saudara-saudara. Tapi, ingat, kita juga akan memasuki kawasan permenungan filosofis yang lumayan sulit. Maka, betulkan lagi posisi duduk Anda dengan baik (jika Anda sedang duduk), kencangkan ikat pinggang, dan bersihkan pikiran dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi berpikir Anda.

***
Kierkegaard mengawali refleksinya tentang manusia dengan berbicara mengenai “diri” atau “kedirian” (selfhood). Istilah ini sebenarnya ia gunakan untuk menunjuk pada subjek yang bernama ‘manusia’ itu. Jadi, jangan terkecoh ya!

radarselatan.com
Menurut Kierkegaard, sebagaimana diuraikannya dalam bukunya yang terkenal, The Sickness Unto Death, ada aspek yang membuat manusia sama dengan yang lain (binatang dan tetumbuhan), yaitu aspek badan (sóma) dan jiwa (psyche), sekalipun ada perbedaan fungsi jiwa pada masing-masing organisme tersebut. Kurang lebih seperti Aristoteles, ia melihat bahwa pada level psikosomatis, manusia sebenarnya memiliki kesamaan dengan binatang dan tetumbuhan, terlepas dari adanya perbedaan fungsi jiwa pada ketiganya.

Aspek badan dan jiwa ini ia sebut sebagai aspek unitif, yaitu aspek yang menjamin kesatuan langsung dalam “diri”. Tanpa bersatunya kedua aspek ini, manusia tidak akan benar-benar menjadi manusia, bahkan tidak dapat disebut manusia. Maka, manusia yang meninggal dunia kemudian kita sebut ‘mayat’ atau ‘jenazah’ sebab jiwanya sudah tak bersatu lagi dengan badannya. Atau sanak keluarga kita yang sudah meninggal, yang badannya sudah menjadi tanah, lantas kita sebut ‘arwah’, yang selalu kita kenangkan dalam doa-doa kita. Oleh karena itu, dalam tradisi Gereja Katolik, misalnya, ada perayaan yang disebut ‘misa arwah’, yaitu perayaan yang bertujuan untuk mendoakan keselamatan sanak keluarga kita yang sudah meninggal dunia.

Ia disebut ‘arwah’ karena badannya tak lagi bersatu dengan jiwanya. Maka, ia pun dengan sendirinya tidak dapat dan tidak layak didefinisikan sebagai manusia. Mengapa demikian? Ya, karena badan dan jiwanya tidak lagi membentuk kesatuan langsung dalam “diri” nya. Ia kehilangan aspek unitif yang merupakan aspek elementer yang membangun dirinya.    

Pertanyaannya sekarang, apakah manusia sudah sungguh-sungguh menjadi manusia dengan aspek unitif itu? Kierkegaard akan menjawab: tidak! Sebab pada level ini, yang ia sebut level psikosomatis, manusia masih sama saja dengan binatang, seperti kucing, anjing, kerbau, dll, yang bekerja menurut dorongan naluriahnya.

Pada level ini, manusia belum bisa mentransendensi dirinya serta kecenderungan-kecenderungan instingtifnya: belum bisa mengontrol diri dengan baik, mengatasi egoisme dirinya yang berlebihan, memikirkan orang lain di sekitarnya, melampaui kenyataan-kenyataan sulitnya, atau mencoba merefleksikan dunia kesehariannya. Artinya, ia belum menjadi manusia yang penuh dan utuh.

Lantas, kapan manusia sungguh-sungguh menjadi manusia dalam arti yang penuh dan utuh? Nah, menurut saudara kita ini, ada unsur yang ketiga (selain badan dan jiwa) yang membuat manusia unggul dari makhluk yang lain, yang membuat manusia sungguh-sungguh menjadi manusia yang utuh. Apakah itu?

Nah, jika Aristoteles menyebutnya dianoêtikon (aspek intelek yang menjalankan fungsi untuk berpikir/mengerti), saudara kita Kierkegaard ini menyebutnya ‘roh’ (spirit). Sekali lagi ya: ROH. Tapi, bukan roh jahat ya, melainkan roh dalam arti yang sama sekali lain, yang akan kita dalami bersama pada bagian selanjutnya. Ingat itu baik-baik sebelum beranjak lebih lanjut.

Sampai pada titik ini, mari saudara-saudara, kita menarik nafas panjang dulu, lalu hembuskan pelan-pelan, sembari menyebut berulang-ulang kata kunci tadi: ROH, ROH, ROH, dan seterusnya.

***
Jika badan dan jiwa merupakan aspek unitif dari “diri”, Roh ini disebut Kierkegaard sebagai aspek sintetik atau dialektis. Inilah aspek yang menyintesiskan manusia menjadi sungguh-sungguh manusia, yang membuat manusia bisa membangun hubungan dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia sekitarnya, dan juga dengan sesuatu yang transenden, yang melampaui segala realitas indrawi. Dengan adanya aspek ini, manusia terbedakan dari kucing, ayam, tikus, pohon cemara, pohon kopi, pohon cengkeh, dll. Mengapa demikian? Sebab makhluk yang lain tidak memiliki roh seperti pada manusia: roh sebagai daya rohani yang secara inheren melekat pada jiwa serta yang memberikan potensi yang lebih besar pada jiwa itu.

Dalam buku The Sickness Unto Death, Kierkegaard membahasakan manusia dan kekhasan kediriannya itu dengan menarik: “Man is spirit. But what is spirit? Spirit is the self. But what is the self? The self is a relation which relates itself to its own self […]. Man is a synthesis of the infinite and the finite, of the temporal and the eternal, of freedom and necessity, in short it is a synthesis.” (hlm 146)

google photo
Dari kutipan ini saudara-saudara, dapat dilihat bahwa Kierkegaard membahasakan manusia sebagai “roh” karena justru aspek itulah yang betul-betul menjelaskan kedirian (selfhood) manusia sebagai manusia, yang terbedakan secara khas dari pengada yang lain. Manusia sungguh menjadi manusia karena ada roh yang menyintesiskan kediriannya sebagai diri yang utuh. Roh itu memediasi pelbagai ketegangan dalam diri manusia secara menakjubkan: antara kemungkinan (kemampuan, harapan, dan cita-cita) dan kenyataan real dirinya, antara yang terbatas dan yang tak terbatas, antara yang fana dan yang abadi.

Manusia persis merupakan hasil sintesis dari pelbagai ketegangan itu, dan hal itu dimungkinkan oleh roh. Luar biasa kan saudara-saudara? Nah, di sinilah kita sudah menemukan titik terang bahwa secara hakiki konsep “diri” Kierkegaard dibangun di atas tiga elemen pokok, yaitu badan, jiwa, dan roh. Apakah kalian merasa memiliki ketiga elemen ini dan merasakan betapa ketiganya sangat membantu peran eksistensial Anda sebagai manusia yang berada di dalam dunia (being-in-the-world)?

***
Dari uraian Kierkegaard ini, kita jadi mengerti bahwa dalam kedirian manusia, badan tak lain adalah aspek fisik dari diri; jiwa adalah aspek afektif dan psikologis; dan roh adalah aspek relasional dan dialektis. Dalam kesatuan badan-jiwa, ada aspek ‘roh’ yang secara laten menentukan kedirian manusia. ‘Roh’ itu berfungsi untuk mentransformasi setiap posibilitas (kemungkinan-kemungkinan potensial) dalam diri manusia menjadi aktualitas yang mengembangkan dirinya.

Roh memproyeksikan diri manusia sebagai pengada yang mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, terutama atas tindakan-tindakannya. Hanya manusia yang bisa seperti itu saudara-saudara: bertanggung jawab atas dirinya, atas sikap dan tindakannya, dan atas semua hal yang dilakukannya berdasarkan kehendak bebasnya.

Binatang dan tetumbuhan tidak mampu melakukan itu sebab mereka tidak dilengkapi dengan elemen ‘roh’, elemen yang memberikan potensi lebih pada jiwa, terutama untuk merefleksikan diri secara baik (untuk semakin mengakrabi diri sendiri, memikirkan dampak dari segala tindakannya, memprioritaskan yang baik, dll). Maka, menjadi jelas bahwa aspek roh inilah yang membuat manusia lebih unggul dari organisme lain. Dengan adanya roh, manusia menjadi istimewa, tidak sama saja dengan binatang dan tetumbuhan. Kita patut mensyukuri hal ini saudara-saudara.

***
Ketika hubungan dialektis antara badan, jiwa, dan roh memungkinkan manusia bertanggung jawab atas dirinya, maka pada saat itulah terjadi transisi dari “it” (aspek kebinatangan dan ke-tetumbuhan-an) kepada “I” (aspek sintetik yang membentuk kedirian manusia). Dalam transisi inilah diri manusia sungguh menjadi “diri” yang sesungguhnya: yang penuh dan utuh.

Dalam kedirian ini, roh memungkinkan manusia bergerak dari “posibilitas” kepada “aktualitas”, dari yang terbatas (the finite) kepada suatu horizon yang tak terbatas (the infinite), dan dari yang sementara (the temporal) kepada yang abadi (the eternal), di mana hal ini terjadi melalui kebebasan. Diri manusia, demikian Kierkegaard, selalu berdinamika dalam dialektika tersebut. Perjalanan hidupnya tak lain dari perjalanan panjang untuk menemukan dirinya sendiri melalui sintesis aneka tegangan dialektis tersebut.

***
Terlepas dari konsepnya tentang diri yang utuh itu (sebagai jawabannya atas pertanyaan apa itu manusia), Kierkegaard tetap terbuka pada hal lain bahwa kemungkinan akan hilangnya kedirian yang sudah teraktualisasi akan selalu ada. Hal itu terutama terjadi ketika manusia mengalami situasi sulit yang ia sebut “putus asa” (despair). Menurut Kierkegaard, ada dua bentuk putus asa yang berpotensi melenyapkan kedirian manusia di sini, yaitu “despair of weaknes” (terlalu lemah untuk mengambil tanggung jawab/alasan estetis) dan “despair of defiance” (menolak untuk bertanggung jawab/alasan etis). Kedua situasi ini bisa mencerabut manusia dari kediriannya: turun dari level “I” kepada “it”.

google photo
Manusia tak jarang berada pada situasi sulit tersebut. Ada yang kemudian mampu mengatasinya dengan baik dengan mengaktifkan daya rohaninya secara optimal, tetapi ada juga yang sama sekali tak mau atau tak mampu bangkit lagi (misalnya dengan memilih bunuh diri atau dengan membiarkan diri terus-menerus terpekur dalam situasi itu). Mereka yang mampu mengatasi situasi itu akan menemukan kediriannya lagi, sementara mereka yang tak mau atau tak mampu bangkit lagi akan kehilangan kediriannya.

Nah, kalau Anda sendiri berada di posisi seperti itu, kira-kira Anda memilih bersikap seperti apa? Mau cepat-cepat bangkit kembali dan mulai menata hidup yang baru atau mau terus terpuruk dalam situasi itu? Atau jangan-jangan mengambil sikap yang ekstrem dengan menolak untuk bangkit kembali dan lantas menempuh jalur singkat dengan mengakhiri hidup di tangan sendiri?

Satu hal yang jelas di sini saudara-saudara: Anda mempunyai kebebasan untuk memilih bersikap seperti apa. Keputusan tertinggi ada pada diri Anda, entah menjadi pejuang entah menjadi pecundang. Semua kemungkinan sangat terbuka, silakan memilih dengan bebas, sejauh Anda mau bertanggung jawab atas semua peluang dan risikonya.

***
Bagi Kierkegaard, kedirian manusia dapat terus bertahan sejauh “diri” terus mengaktualisasikan kemungkinan yang diproyeksikan oleh roh. Kedirian dengan demikian harus selalu berada dalam sintesis dialektis antara badan, jiwa, dan roh. Oleh karena itulah Kierkegaard mendefinisikan “diri” secara enigmatik: “Diri adalah relasi yang menghubungkan dirinya dengan dirinya sendiri.”

Diri di sini bukanlah relasi itu sendiri. Diri di sini dibentuk oleh kenyataan bahwa relasi itu menghubungkan dirinya dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, diri bukanlah kesatuan langsung dari badan dan jiwa; diri terdiri dari kenyataan bahwa relasi langsung itu menghubungkan diri manusia dengan dirinya sendiri. “Kekuatan” yang memungkinkan hubungan yang termediasi ini adalah roh.

Roh di sini, yang merupakan kekuatan kedirian (the power of selfhood), membuat kesatuan badan-jiwa menjadi suatu sintesis diri yang utuh. Di situlah, kata Kierkegaard, manusia akan sungguh-sungguh menjadi manusia yang penuh dan unik, yang terbedakan secara khas dari pengada yang lain, dari binatang dan tetumbuhan. Manusia dalam arti inilah yang disebut Kierkegaard sebagai manusia yang sesungguhnya.

***
Mari kita masuk ke dalam diri kita masing-masing, cobalah membangun hubungan yang akrab dengan diri kita, dan rasakan kesatuan dialektis dari badan, jiwa, dan roh dalam “kedirian” kita itu. Jika kita mampu mengalami dan merasakan kesatuan itu dengan baik, syukurilah bahwa kita boleh berada di dunia sebagai manusia, bukan sebagai kucing, ayam, kerbau, pohon kopi, pohon cengkeh, meja, kursi, dll. Apa pun kenyataan diri kita saat, kita tetap harus bersyukur bahwa kita ini terlahir sebagai manusia dan boleh menikmati ke-ber-ada-di-dalam-dunia-an dengan segala peluang dan risikonya, suka dan dukanya, untung dan malangnya, manis dan pahitnya, dan sebagainya.

Selebihnya, marilah terus bergulat untuk menjadi diri kita sendiri, terutama untuk menjadi manusia yang penuh dan bermakna. Selamat menjadi (becoming) manusia yang utuh secara terus-menerus!

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4