Suatu Waktu di Citraland


kompasiana.com

Joan Udu*

DI SEBUAH APOTEK

Tuhan tidak sedang bercanda
ketika mempertemukan kita
di serambi apotek itu siang itu.

Daun-daun cemara basah
yang berbaris rapi di halaman rumahmu
sempat meringkas geletar hati kita
dengan cara yang tak pernah kita tahu.

Rasanya waktu itu
belum lama aku menikmati cinta pertama
yang kau bagikan dengan sepenuh hati.

Aku tak merasakan lagi lukaku
sebab senyummu yang lembut
membakar ketakutanku
pada nganga luka.

Kau tahu cara menyembunyikan pisau
yang menyebabkan segala luka.”  

Melihat wajah cantikmu siang itu adalah berkat
yang mengantarku pada sebuah selubung rahasia
yang membebaskan dari duka.

Mencintaimu waktu itu
seumpama terjebak dalam sebuah rimba:
aku tak tahu harus ke mana, tapi aku menikmatinya.

Tapi, Tuhan juga tentu tidak sedang bercanda
ketika harus menyusun ceritanya serumit itu.


Desember, 2018


DI ANTARA

Di antara fonem A dan P dalam namamu
Ada jeda, seluas serat selasih
Itulah yang kita sebut spasi.

Di antara cemas dan rindu di dalam dadamu
Ada celah, tak kutahu tepinya
Itulah yang kita sebut sepi.


Agustus, 2014


EVERGREEN
                  
:suatu waktu di Citraland

Senyummu itu: sekuntum mawar
yang tumbuh dan mekar
tanpa bantuan musim dan cuaca.

dan suaramu: bisikan lembut arus sungai
yang tersauk di antara rindu, doa,
dan gemerisik dedaunan yang jatuh.

kemudian aku: selembar daun kering
yang tak akan berhenti bersemi
sebelum beristirahat di keningmu.

Januari 2017


KURELAKAN KAU

Bertahun-tahun kubiarkan kau
pergi menjumpai lengan takdir
yang memberikanmu banyak teka-teki.

Seumpama jalan setapak di samping rumahmu
rela menerima kata pisah di suatu persimpangan,
kurelakan kau pergi pada beribu tanya
yang tak pernah menjanjikan
jawaban yang pasti.

Kurelakan kau pergi dan pergi lagi
sampai suatu saat bayangmu datang
dan mengucapkan “selamat tinggal”.

Februari, 2015


SEIKAT SELAMAT

Selamat pagi.
Selamat bertemu kembali.

Selamat meninggalkan luka
di dadaku yang kekar.

Selamat mengharapkan kebaikan hujan
untuk menghapus setiap laksa kenangan
yang terus mendidih di antara kita.

Selamat bergegas ke persimpangan jalan
tanpa harus merasa kehilangan.

Selamat.
Sekali lagi, selamat.

Amin.

Agustus, 2012


SUATU WAKTU DI CITRALAND

1/

Melihatmu tersenyum senja ini
menjadi lanskap terbaik sepanjang hidupku,

dan menghapus namamu dari sejarah
adalah dosa terbesar, yang mungkin
tak ada ampunnya.

2/

Aku senang belajar mencintaimu
sejak pertama kali melihatmu
di halaman rumahmu yang asri.

Kau mungkin tak pernah tahu
betapa bahagia rasanya menemuimu senja ini,

sekalipun sudah lama kau tafsirkan aku
sebagai seorang yang asing
di ingatanmu.

Tapi aku tetap senang mencintaimu.
Entah sampai kapan.

3/

Kulihat kau menatap lekat dari balik meja
dan seakan bertanya pilu dalam hati,
“mengapa kau selalu melihatku begitu?”

Sementara di ufuk matahari terus berteriak
memanggilmu pulang ke kediaman.

Siut matamu menyala,
sambar-menyambar di jantungku.

3/
Matamu, seperti pernah aku bilang,
adalah jendela waktu,

yang membuka segala bentuk rahasia
yang terang, juga yang gelap sekalipun.

Aku tak pernah tahu mengapa begitu
tapi aku bahagia menjadikanmu abadi.

Benar-benar abadi.

Januari 2017


JIKA

Jika mencintaimu seumpama jalan panjang
menuju sebuah kota abadi,

maka aku merasa sudah selalu berangkat setiap hari,
tapi entah kenapa belum kunjung tiba hingga sekarang.


Agustus 2016



*Joan Udu, peminat puisi dan kerupuk 

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4