Secangkir Kopi untuk Dialektika Aristoteles

mataramgolonggilig.wordpress.com

Joan Udu

Dialektika merupakan salah satu istilah penting dalam filsafat. Hampir semua aliran filsafat dari zaman Yunani kuno sampai zaman kontemporer (postmodern) memiliki ciri intrinsik ini: ciri dialektis. Maka, memiliki pemahaman yang baik tentang dialektika atau tentang proses dialektis dalam sistem pengetahuan merupakan sebuah modal yang baik dalam memasuki belantara filsafat yang rumit.

Kali ini saya ingin mengajak Anda sekalian untuk mendalami proses dialektis dalam filsafat, secara khusus dalam filsafat Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, berdasarkan pembacaan pribadi saya atas salah satu teks kunci dalam filsafatnya, yaitu teks Metaphysics, I. III. 1-17—IV. 1-12. Untuk itu, kita pertama-tama akan berkenalan dengan teks metafisika ini agar pendalaman kita mengenai aksentuasi utama dialektika Aristoteles bisa lebih mudah.

Saya sarankan Anda menikmati ulasan ini sambil menyeruput secangkir kopi, supaya suasana hati Anda tetap terjaga. Mood (suasana hati) akan sangat menentukan kecepatan dan ketepatan Anda dalam memahami sebuah ulasan filsafat, terutama filsafat Aristoteles yang selalu dirujuk oleh filsuf-filsuf sesudahnya.

Benih-benih Proses Dialektis dalam Teks Metafisika Aristoteles

Secara umum, teks Metaphysics (I. III. 1-17—IV. 1-12) Aristoteles memuat penjelasan rinci tentang sebab-sebab pertama munculnya segala sesuatu di alam semesta ini. Apakah sebab-sebab itu? Aristoteles mengemukakan empat sebab, yakni sebab formal (essential nature of the thing), sebab material (substrate), sebab efisien (the source of motion), dan sebab final (the purpose or “good”). Sebab final menjadi akhir dari setiap proses generatif di alam semesta ini.

Namun, jauh sebelum Aristoteles, sebenarnya sudah ada sejumlah filsuf yang membuat penyelidikan tentang sebab-sebab pertama ini. Filsuf-filsuf itu antara lain Thales, Anaximenes dan Diogenes, Hippasus, Heraclitus, Empedocles, dan Anaxagoras. Akan tetapi, filsuf-filsuf ini baru menemukan satu sebab saja, yaitu sebab material.

Sebab material itu, menurut Thales, adalah air. Bagi Thales, alam semesta ini berawal dari air atau setidaknya kelembapan. Asumsi ini dimunculkannya bukan tanpa alasan. Menurut pengamatannya, segala hal yang ada di bumi ini pasti selalu mengandung air atau kelembapan.

Berbeda dengan Thales, Anaximenes dan Diogenes memiliki pandangan yang sama sekali lain. Bagi mereka, sebab material, yang adalah sebab pertama alam semesta, tak lain dan tak bukan adalah udara. Di mana-mana kita menghirup udara. Apalagi manusia dan makhluk hidup yang lain pasti selalu membutuhkan udara. Maka, segala sesuatu yang mengada di alam ini pasti berawal dari sebab pertama ini, yakni udara.

Hippasus dan Heraclitus memperpanjang pluralitas asumsi perihal sebab pertama ini. Bagi kedua filsuf ini, apilah yang menjadi sebab pertama alam semesta, bukan air atau udara. Semua hal di alam ini mengandung api. Untuk segala urusan kehidupan dan survival juga kita membutuhkan api. Api adalah segala-galanya.

Lain dari filsuf-filsuf di atas, pandangan Empedocles sudah mulai lebih rumit. Ia memasukkan tanah sebagai prinsip tambahan yang mendasari keberadaan seluruh anasir alam semesta. Maka, bagi Empedocles, sebab pertama segala sesuatu ada empat, yaitu air, udara, api, dan tanah.

Lebih rumit lagi dari Empedocles, Anaxagoras mempunyai keyakinan bahwa sebab pertama itu adalah ‘ketakterbatasan’ (infinite in number). Bagi Anaxagoras, segala sesuatu tidak pernah dihasilkan atau dihancurkan. Segala sesuatu itu ada secara kekal. Rumit, bukan?

Lalu, sampai pada titik ini, apa yang bisa kita katakan? Satu hal yang jelas bahwa mereka sudah mulai memikirkan dunia kehidupan mereka secara rasional meskipun asumsi-asumsi itu masih bisa diperdebatkan. Pada masa sebelumnya, manusia menjelaskan dunianya secara mitologis. Refleksi tentang dunia kehidupan dibahasakan dalam bentuk mitos-mitos. Inilah era mitologis atau biasa disebut dengan era pra-filosofis.

Akan tetapi, dengan dimulainya sebuah refleksi langsung dan rasional atas dunia kehidupan, sebagaimana dilakukan para filsuf alam tersebut, maka dimulai pulalah sebuah era baru dalam sejarah pemikiran. Inilah era demitologisasi atau yang biasa dikenal dengan era filosofis. Pada era baru ini, manusia sudah mulai memikirkan dunia kehidupannya secara rasional, logis (melalui mediasi logos), dan objektif (objek didekati secara langsung dan apa adanya, tanpa melewati jalan panjang melalui mitos-mitos).

Tentu menarik untuk mencermati apa yang diajukan para filsuf alam tersebut. Mereka berupaya menjelaskan dasar ontologis alam semesta ini secara rasional-logis berdasarkan sebuah pengamatan langsung. Mereka menempuh sebuah proses mengetahui yang serius demi menghasilkan sistem pengetahuan tertentu tentang sebab kemunculan alam semesta. Ini adalah sebuah proses saintifik sekaligus filosofis.

Mungkin agak sulit kita bayangkan mengapa mereka sampai pada pemikiran seperti itu, misalnya mengajukan air, udara, api, tanah, dll sebagai sebab pertama alam semesta. Aristoteles juga tidak menjelaskan panjang-lebar perihal itu pada naskah Metaphysics, I. III. 1-17—IV. 1-12. Tapi itulah yang kita terima sebagai hasil refleksi mereka pada masa itu, ketika sebuah sejarah pemikiran dimulai dan pelan-pelan mendapat bentuk awalnya.

Namun, kalau boleh menduga, saya sendiri melihat bahwa refleksi para filsuf itu dipengaruhi oleh lingkungan alam di mana mereka tinggal. Thales, misalnya, merumuskan “air” sebagai sebab pertama alam semesta karena kemungkinan dia hidup di daerah yang lembab atau berlimpah air, seperti di daerah pantai, dekat sungai, rawa-rawa, dan sebagainya. Demikian pun filsuf alam yang lain. Artinya, alam sekitarlah yang membentuk refleksi dan cara pandang mereka.

Mereka merumuskan sebab pertama alam semesta berdasarkan kondisi alam di mana mereka hidup. Mungkin karena itu pula mereka disebut filsuf alam, tentu selain karena fokus utama refleksi mereka adalah mencari prinsip pertama (arche) yang mendasari alam semesta. Namun terlepas dari itu, harus dikatakan bahwa refleksi mereka ini cukup berjasa dalam meletakkan basis yang kuat bagi pemikiran Aristoteles di kemudian hari, terutama dalam menemukan sebab-sebab yang lain yang lebih kompleks. Pertautan Aristoteles dengan para filsuf alam ini menyediakan benih-benih awal bagi proses dialektis dalam filsafat dan sistem pengetahuan secara umum.

Posisi Aristoteles

Aristoteles sendiri mengapresiasi para pendahulunya ini, para filsuf alam yang sudah merumuskan sebab material menurut pengamatan mereka masing-masing. Para filsuf alam ini sangat membantu penyelidikan para filsuf atau pemikir sesudahnya, termasuk Aristoteles sendiri. Di atas dasar yang diletakkan para filsuf alam ini, Aristoteles kemudian melakukan penyelidikan lebih lanjut dan akhirnya menemukan sebab-sebab lain yang menyertai sebab material. Sebab-sebab tambahan itu ada tiga: sebab formal, sebab efisien, dan sebab final.

slideplayer.com




Sebab-sebab yang lain ini sangat penting dalam menjelaskan bagaimana suatu materi tertentu (sebagai prinsip pertama) bisa menggerakkan segala sesuatu menjadi ada. Sebab bagi Aristoteles, suatu bahan material tidak mungkin menggerakan dirinya sendiri. Tidak mungkin sebatang kayu menggerakan dirinya sendiri menjadi kursi atau meja. Tidak mungkin sebuah perunggu menggerakan dirinya sendiri menjadi patung. Perlu ada penggerak yang lain agar suatu bahan material betul-betul menjadi “suatu tertentu” seperti yang kita harapkan. Penggerak itu, demikian Aristoteles, bernama ‘sebab efisien’ (the source of motion). Dialah yang menggerakkan sebab material menjadi wujud tertentu.

Pandangan ini kemudian ditentang oleh Parminides, filsuf Yunani yang lain. Bagi Parminides, tidak ada gerak dan perubahan dalam benda-benda. Setiap benda di alam semesta ini terbentuk secara ajek, tetap, dan tak akan berubah. Maka, bagi filsuf ini, sebab efisien itu tidak diperlukan karena tidak dapat menjelaskan status ontologis benda-benda di jagat ini.

Namun, di samping penolakan Parminides, masih ada sejumlah filsuf yang menerima dengan senang hati sebab efisien. Beberapa di antaranya adalah Anaxagoras, Hesiodos, dan Empedocles. Mereka bahkan menyediakan nama masing-masing untuk sebab efisien itu. Anaxagoras, misalnya, menyebutnya “intelek”, Hesiodos menyebutnya “cinta dan hasrat”, dan Empedocles menyebutnya “cinta dan benci”. Dari sebab efisien seperti yang mereka sebutkan ini, benda-benda di jagat ini mengalami perubahan menjadi sesuatu tertentu.

Aristoteles mencermati semua itu dengan baik dan mendalam untuk kemudian menegaskan posisi epistemiknya. Bagi Aristoteles, pemahaman para pendahulunya itu masih mengambang dan mentah. Mereka tidak memahami pernyataan mereka sendiri dan mereka tidak menjelaskan asumsi-asumsi mereka dengan baik.

Anaxagoras, misalnya, hanya menjelaskan bahwa inteleklah yang menggerakan suatu sebab material menjadi “suatu tertentu”. Ia sama sekali tidak menjelaskan bagaimana intelek itu bekerja dan mengubah suatu prinsip material menjadi “suatu tertentu”. Maka, bagi Aristoteles, penyelidikan para pendahulunya itu memang bermanfaat dan cukup membantu pencariannya akan sebab-sebab yang lain, tetapi hasilnya masih sangat mengambang dan belum jelas.

Lantas, bagaimana mengatasi kekurangan itu? Ya, tentu dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut supaya dapat dihasilkan suatu sistem pengetahuan yang akuntabel. Nah, dalam horizon pencarian inilah Aristoteles kemudian menemukan dua sebab yang lain, yang bisa menjelaskan dengan baik bagaimana suatu prinsip material menjadi sesuatu tertentu, yaitu sebab formal dan sebab final.

Dua sebab ini diperlukan agar sebelum mengubah sebuah bahan material menjadi sesuatu yang tertentu, kita pertama-tama harus memiliki gambaran yang tepat tentang bentuk (forma) dari sesuatu itu serta tujuan (maksud final) mengapa ia dibentuk seperti itu. Prinsip-prinsip ini wajib ada dalam membentuk suatu bahan material menjadi sesuatu yang tertentu.

Dalam membuat sebuah meja, misalnya, hal pertama yang dibutuhkan tentu bahan materilnya (sebab material), seperti kayu atau tripleks. Setelah itu, kita pasti membutuhkan tukang (sebab efisien) untuk mengerjakan bahan material itu menjadi meja. Namun, tukang itu tidak akan tahu bagaimana harus membuat sebuah meja jika dia tidak memiliki gambaran yang tepat tentang bentuk meja (sebab formal).

Lalu, untuk mendapatkan hasil terbaik dan tepat sasaran, si tukang harus tahu meja itu akan dipergunakan untuk apa (sebab final). Jika akan dipergunakan untuk meja makan, maka dia juga harus mempunyai gambaran yang tepat tentang bentuk meja makan (sebab formal) agar bisa mengubah sebuah bahan material sesuai dengan maksud atau tujuan akhirnya. Demikian pun kalau meja itu akan dipergunakan untuk meja sidang, meja belajar, meja altar, dll, si tukang tetap harus memiliki gambaran yang tepat tentang bentuk-bentuk meja itu. Hal yang sama juga berlaku tatkala hendak membuat benda-benda tertentu yang lain.

Berdasarkan penyelidikan ini, Aristoteles menyimpulkan bahwa sesuatu di jagat raya ini akan betul-betul menjadi sesuatu yang tertentu kalau digerakkan oleh empat sebab itu: sebab material, sebab efisien, sebab formal, dan sebab final. Empat sebab ini menggerakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Empat sebab ini ditemukan Aristoteles setelah membaca dan mengevaluasi secara kritis penemuan para filsuf terdahulu.

Dari proses tersebut, terlihatlah bahwa perjalanan Aristoteles untuk sampai pada suatu sistem pengetahuan yang lebih adekuat ditempuh melalui tiga langkah epistemik bertingkat: (1) membaca, memahami, dan mengapresiasi pencapaian para pendahulunya; (2) memberikan tanggapan, kritik, dan bahkan koreksi terhadap konstruksi pengetahuan sebelumnya; dan (3) melakukan studi dan penyelidikan lebih lanjut sampai dihasilkannya suatu penemuan baru serta sistem pengetahuan yang lebih progresif. Filsafat dari zaman Yunani sampai zaman kontemporer dapat terus berkembang karena menempuh langkah-langkah epistemik bertingkat ini.

Perihal Dialektika

Persis dari tiga langkah epistemik bertingkat itu, apa yang dinamakan dengan dialektika mendapatkan bentuknya yang jelas. Tiga langkah epistemik itu tak lain dan tak bukan adalah proses dialektis itu sendiri. Tiga langkah epistemik bertingkat itu kurang lebih menggambarkan tiga langkah penting dalam dialektika filosofis: tesis (konstruksi pengetahuan yang diwariskan dari masa sebelum Aristoteles) — antitesis (tanggapan, kritik, dan bahkan koreksi Aristoteles terhadap sistem pemikiran sebelumnya) — sintesis (sistem pemikiran baru yang dihasilkan Aristoteles berdasarkan pembacaan kritis terhadap sistem pemikiran sebelumnya).

medium.com

Dari dinamika ini, ada beberapa hal yang bisa dilihat sebagai pokok-pokok kunci Aristoteles perihal dialektika dalam teks Metaphysics, I. III. 1-17—IV. 1-12. Pertama, dialektika terjadi ketika filsafat atau sistem pengetahuan tertentu tidak dibangun dari ruang kosong. Filsafat dan sistem pengetahuan secara umum pasti selalu bertautan dengan sistem pemikiran sebelumnya, entah dalam bentuk evaluasi kritis terhadap sistem pemikiran sebelumnya, entah juga dalam bentuk perluasan sekaligus pematangan sistem pemikiran sebelumnya. Suatu sistem pengetahuan tidak pernah berangkat dari suatu ruang kosong. Ia dibangun di atas sistem pemikiran yang mendahuluinya.

Hal ini hendak mengatakan bahwa filsafat atau sistem pengetahuan secara umum memiliki sifat historis. Pemikiran Aristoteles mengenai empat sebab yang mendasari keberadaan segala sesuatu di kosmos ini, misalnya, tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dipacu oleh diskursus-diskursus filosofis yang ditimbulkan oleh para filsuf alam sebelumnya.

Begitu juga dengan para filsuf alam itu, ikhtiar mereka untuk memikirkan sebab pertama kemunculan alam semesta ini timbul dari ketidakpuasan terhadap penjelasan-penjelasan mitologis mengenai asal-usul segala sesuatu. Jadi, suatu sistem pemikiran selalu memiliki pertautan secara dialektis dengan sistem pemikiran lain. Tidak ada yang dibangun dari ketiadaan atau dari suatu ruang kosong.   

Kedua, dialektika baru terjadi ketika ada diferensiasi pandangan atau pemikiran. Dalam teks Metaphysics, I. III. 1-17—IV. 1-12, hal itu terlihat jelas. Para filsuf alam, misalnya, tidak serta-merta menyetujui pemikiran para filsuf yang lain. Mereka selalu berusaha untuk berpikir mandiri serta memiliki pandangan sendiri tentang sesuatu. Bahkan mereka tidak pernah sungkan mengkritik pandangan filsuf yang lain sambil terus mencoba mengusulkan suatu pemikiran baru.

Penemuan Aristoteles mengenai empat sebab kemunculan segala sesuatu di alam semesta pun terlahir dari keberanian itu: keberanian untuk berbeda dari pandangan lain berdasarkan suatu proses reflektif yang matang. Keberanian inilah yang membuat filsafat terus mengalami perkembangan signifikan hingga zaman ini. Melalui keberanian ini, apa yang dinamakan ‘proses dialektis’ menjadi subur dalam filsafat.

Ketiga, dialektika terjadi ketika kita betul-betul sampai pada suatu sintesis (proposal pemikiran baru sebagai jalan tengah terhadap pemikiran lama), tanpa terjebak pada antitesis semata (kritik terhadap tesis utama pandangan tertentu). Proses ini tentu tidak akan pernah selesai, sebab apa yang menjadi sintesis dalam suatu diskursus tertentu bisa saja menjadi tesis baru untuk didiskusikan lebih lanjut dalam diskursus yang lain. Sintesis dalam bentuk penemuan empat sebab oleh Aristoteles, misalnya, tentu masih bisa didiskusikan dan ditanggapi secara kritis oleh filsuf sesudahnya. Maka, bukan tak mungkin akan ada antitesis dan sintesis baru yang ditimbulkan oleh penemuan Aristoteles tersebut.

Dari ulasan ini, dapat dilihat bahwa dialektika itu merupakan suatu proses melingkar yang tidak pernah selesai. Jika proses ini mati, maka mati pulalah filsafat dan seluruh jenis ilmu pengetahuan. Justru karena proses dialektis ini tidak pernah selesai, filsafat dan seluruh sistem pengetahuan terus mengalami perkembangan yang signifikan hingga saat ini.

Kesimpulan: Sebuah Pesan Moral

Jika Anda mau maju, tumbuhkan dan kembangkan terus semangat berdialektika dalam diri Anda. Ingatlah bahwa tidak selamanya Anda benar, baik dalam level pemikiran maupun dalam level tindakan konkret. Oleh karena itu, berikan ruang untuk sebuah antitesis, ruang terbuka untuk dikritik, ditegur, dan dikoreksi oleh orang lain. Siapa tahu dari “ruang terbuka” itu Anda mendapatkan masukan-masukan yang baik (sintesis) untuk kemajuan dan kematangan diri Anda.

Jika Anda tidak membuka ruang itu, saya bisa pastikan, Anda akan menjadi manusia kerdil dan statis seumur hidup. Anda tidak akan berkembang menjadi lebih baik. Lebih tragisnya lagi, Anda akan menyesal sendiri pada waktunya.

Ingat, hidup ini singkat dan cuma sekali. Maka, teruslah berusaha untuk menjadi (becoming) manusia yang otentik, matang, dan bermakna dengan terus merawat semangat dialektis dalam diri Anda. Tapi, eittt…coba tengok sebentar cangkir kopi Anda. Nah, jika memang Anda mau maju, seruput kopinya hingga tuntas!
         
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4