Merdeka!

Sumber: Channel Youtube Banus Tangi


Lontar Pos - Bangsa Indonesia telah menghirup udara kemerdekaan selama 74 tahun. Lantas, apa itu ‘merdeka’? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya seperti ini, “(1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); (2) leluasa, tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu”. Lalu, bagaimana konsep itu dipraktikkan dalam kehidupan aktual?


Tentu ada banyak cara dan bentuk-bentuk tindakan yang mengekspresikan kemerdekaan. W.S. Rendra, misalnya, mengekspresikannya secara leluasa dan bertangggung jawab dalam puisi-puisinya, di mana ia melontarkan kritikan-kritikan sosial-politik secara tajam tanpa sedikitpun takut terhadap intimidasi atau pelbagai bentuk ancaman. Ia menyair dengan sikap merdeka.


Contoh lain adalah Fransiskus dari Asisi. Ia mengekspresikan kemerdekaan dengan hidup miskin dan tanpa milik demi mengikuti Yesus yang tersalib. Ia hidup lepas bebas, merdeka, tanpa terikat atau tergantung pada hal-hal duniawi. Tak hanya itu, ia berhasil melampaui kenyamanan dirinya sendiri, misalnya, dengan pergi bertemu Sultan Malikh Al Khamil di Dalmatia dalam keadan lepas bebas—sementara pada waktu itu, sedang gencarnya perang salib, tetapi Fransiskus dengan sikap penuh merdeka meninggalkan prasangka-prasangka buruk tentang orang-orang Sarasean (orang muslim) dan merayakan perjumpaan langsung dengan mereka.


Fransiskus tidak diperbudak oleh kemapanan dirinya sendiri atau oleh prasangka-prasangka, ketakutan, serta cara pandang-cara pandang tertentu tentang orang yang sering dipersepsi ‘beda’. Ia melampaui semua sekat pembatas yang memisahkannya dengan yang lain, pergi dari dirinya sendiri, dan lantas merayakan perjumpaan langsung dengan orang lain, bahkan dengan mereka yang dianggap musuh.


Dalam diri St. Fransiskus Asisi, sikap bebas-merdeka itu menemukan arti yang radikal: ‘merdeka’ tidak sekadar “bebas dari” perhambaan, penjajahan, tuntutan, keterikatan, dan ketergantungan, tetapi juga “bebas untuk” melakukan hal-hal yang baik dan produktif, seperti membangun dialog yang hangat dengan orang lain, yang dilandasi sikap hormat, toleran, dan harga-menghargai satu sama lain.

***

Saat ini, Indonesia masih dicemaskan oleh fenomena intoleransi agama. Rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain sudah semakin luntur. Perbedaan suku, budaya, ras, agama, dan golongan bukannya dilihat secara positif, melainkan justru dipolitisasi dan digoreng sedemikian rupa demi kepentingan pragmatis orang atau kelompok tertentu.  


Fenomena peng-kafir-an serta peminggiran kaum yang dipersepsi sebagai ‘yang lain’ masih jamak terjadi. Seiring dengan itu, dikotomi mayoritas-minoritas semakin meruncing. Dalam kenyataannya, dikotomi semacam itu kerap merugikan kelompok minoritas.

Di tanah Indonesia, yang de facto sudah merdeka sejak 74 tahun yang lalu, kenyataan miris tersebut kian merambatkan akar-akarnya. Lantas, apa arti kemerdekaan kalau anak-anak bangsa tertentu masih menciptakan belenggu dan beban bagi anak-anak bangsa yang lainnya? Quo vadis kemerdekaan kita?


Kita boleh saja bangga punya banyak pahlawan, bangga punya sejarah yang besar, bangga punya Indonesia yang luas, tetapi kalau tindakan-tindakan dan perilaku kita masih cenderung egoistik-sektarian, kita tak ada bedanya dengan pecundang. Kriminalisasi dan marginalisasi anggota kelompok agama tertentu merupakan bentuk-bentuk kolonialisme gaya baru yang lebih menyakitkan daripada yang dilakukan para penjajah tempo dulu. Tindakan-tindakan semacam itu lebih tepat disebut sebagai pengkhianatan dan penghinaan jasa para pahlawan kemerdekaan.


Para pahlawan mengantar bangsa ini ke gerbang kemerdekaan dengan darah dan air mata. Pengorbanan dan perjuangan mereka tak ada bandingnya, tetapi mengapa kita justru mengisi kemerdekaan dengan mencipatkan penjajahan-penjajahan model baru? Mengapa kita tidak bisa saling menghormati, menghargai satu sama lain, menjunjung tinggi sikap tenggang rasa, semangat kebinekaan, dan toleransi? Mengapa kita begitu tega mengintimidasi dan memberangus satu sama lain? Mengapa masih ada yang menyuburkan niat untuk menggantikan dasar dan ideologi negara dengan ideologi-ideologi tertentu yang hanya mewakili suatu kelompok? Mengapa kita tidak berlomba mengisi kemerdekaan dengan melakukan hal-hal kreatif dan poduktif—ketimbang ribut mempermasalahkan hal-hal yang tidak urgen? Mengapa, mengapa, dan mengapa?


Ya, mungkin karena masih banyak di antara kita yang belum begitu paham sejarah. Atau mungkin sudah paham, tetapi memilih apatis demi memuluskan agenda dan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, ancaman terbesar republik ini sekarang bukan lagi pihak asing, melainkan anak-anak bangsa yang apatis, oportunis, dan pragmatis. Kita belum mampu menginternalisasikan arti kemerdekaan secara serius. Akibatnya, tindakan-tindakan kita pun sering merusak arti kemerdekaan sejati.


Kita baru “merdeka dari” rongrongan negara kolonial, tetapi belum “merdeka untuk” membangun bangsa dengan sumbangsih-sumbangsih positif. Kita merdeka hanya pada tataran historis dan faktual, sementara perbuatan-pebuatan kita masih kerap mencerminkan mentalitas budak, mentalitas orang yang belum merdeka. Tindakan-tindakan kekerasan, main hakim sendiri, anarkisme, kriminalisasi orang-orang tak bersalah, korupsi dan nepotisme, dll menjadi potret nyata mentalitas budak karena orang membiarkan diri “diperbudak” oleh nafsu-nafsu rendahan: nafsu untuk mendominasi dan memberangus yang lain, nafsu untuk mengambil apa yang bukan merupakan milik pribadi, nafsu serakah untuk korupsi, dan sebagainya. Untuk itu, sangat afdol jika dikatakan, kita belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya.


***

Lantas, kira-kira kapan baru kita bisa dikatakan sebagai manusia atau bangsa yang merdeka? Ya, jawabannya sederhana: ketika kita sudah bisa menghormati satu sama lain; menghargai perbedaan dan kemajemukan; merawat persatuan dan semangat gotong royong; hidup jujur, adil, dan beradab; mengutamakan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah bersama; dan ikut ambil bagian untuk memajuan Indonesia dan dunia dengan kecakapan dan kemampuan kita masing-masing. Dengan itu, kita menyatakan kemerdekaan kita. Merdeka!    



Banus Tangi, OFMMahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4