Edward Said: Emansipasi Itu Harga Mati!

galeribukujakarta.com


Di sejumlah negara Timur, terutama di negara-negara bekas jajahan Barat, kolonialisme dan imperialisme menyisakan beragam persoalan krusial. Masuknya kolonialisme di negara-negara Timur tidak hanya menimbulkan eksploitasi secara ekonomis, tetapi juga menciptakan wacana tertentu tentang masyarakat di wilayah ini.

Hal itu, misalnya, tampak dalam sejumlah stereotype yang melihat bangsa-bangsa Timur sebagai bangsa yang lemah, tidak rasional, tidak kritis, primitif, dan sebagainya. Wacana semacam ini menimbulkan konsekuensi tersendiri, di mana terdapat oposisi biner antara Barat yang maju dan beradab serta Timur yang masih terbelakang dan kurang beradab. Kecenderungan ini pun tak pelak menimbulkan ketegangan dan reaksi kritis dari orang-orang Timur.

Salah satu pemikir dan tokoh terkemuka yang memberikan reaksi cukup keras adalah Edward Said. Gagasan-gagasan bernasnya antara lain tertuang dalam salah satu karya besarnya, yaitu Orientalism, yang diterbitkan pada tahun 1978. Dalam buku ini, Said mengkritik konstruksi ideologis, bentuk-bentuk studi, dan image yang dibangun Barat mengenai Timur. Esensi kritik dan proposal pemikirannya kemudian dikenal secara populer sebagai “Teori Postkolonial”. Lantas, apa saja gagasan-gagasan pokok Said dalam teori postkolonialnya dan apa pesan pentingnya untuk kita? Tulisan ini akan menyajikan jawaban lengkapnya.

Orientalism sebagai Teks Pelopor

Secara umum, orientalisme dapat dipahami sebagai sebuah kerangka epistemik untuk memahami orang-orang Timur dan kekhususan-kekhususannya yang didasarkan pada cara pandang dan pengalaman-pengalaman orang Eropa.[1] Sementara Said sendiri melihatnya “sebagai gaya berpikir yang mendasarkan pemahaman pada distingsi ontologis dan epistemologis antara Timur (the Orient) dan Barat (the Occident).”[2] Dalam hal ini, menurut Said, Timur kerap dipandang sebagai ‘liyan’ oleh Barat.

Kajian parsial semacam ini jelas tidak bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu, baik kepentingan politis-kekuasaan maupun kepentingan ideologis. Di sini, Said mengacu pada dua karya Foucault, yaitu The Archaelogy of Knowledge dan Disiplin and Punish, yang memuat konsep tentang wacana (discourse), dan yang kemudian digunakannya untuk mempertajam pisau analisisnya. Said mempunyai alasan tersendiri di sini: karena orientalisme adalah sebuah diskursus, di mana Barat secara sistematis mengatur dan “menciptakan” Timur secara sepihak, baik secara sosiologis, politis, militer, ekonomis, dan kultural maupun secara imajinatif.[3]

Hegemoni Barat itu begitu menguat pada era pasca-pencerahan yang antara lain ditandai oleh penegasan tentang pentingnya subjektivitas dan rasionalitas manusia. Akan tetapi, pengagungan terhadap rasionalitas ini kemudian menjebak Barat pada pusaran ‘rasionalitas instrumental’ (yang kemudian dikritik oleh mazhab Frankfurt) yang menjadi legitimasi bagi segala ekspansi kolonialnya. Model rasionalitas ini secara historis-faktual berkontribusi besar dalam merendahkan bangsa-bangsa Timur sebagai bangsa yang lemah, primitif, dan kurang beradab. Persis hal inilah yang dikritik Said, yang lantas melahirkan teori postkolonialnya.

Dalam teori ini, Said memperkenalkan sejumlah perspektif baru dan progresif dalam “mendekati” bangsa-bangsa Timur.[4] Melalui studi postkolonial, ia berusaha melampaui studi dan pendekatan kolonial yang terkesan parsial dan arogan. Ia terutama menawarkan suatu alternatif pendekatan baru yang lebih positif dan optimis terhadap Timur.

Seputar Teori Postkolonial[5]

Teori postkolonial merupakan suatu bentuk konsientisasi sekaligus kritik terhadap neo-kolonialisme serta hubungan hegemonis kekuasaan dalam segala macam bentuknya. Teori ini tidak hanya dilihat sebagai suatu bentuk dekolonialisasi pasca-kemerdekaan, tetapi juga sebagai suatu reaksi dan perlawanan terhadap segala bentuk hegomoni dan dominasi yang dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah.

Postkolonialisme menghendaki adanya suatu emansipasi agar bangsa-bangsa Timur memiliki ruang yang luas untuk menunjukkan identitas dan narasi dirinya. Di sini, teori postkolonial terkait secara dialektis dengan watak postmodern yang getol mengkritik sentralisasi narasi kebudayaan Eropa. Gerakan ini searah dengan posisi Jean-Francois Lyotard yang memproklamirkan “perang” terhadap pandangan totalistik “narasi besar” (narasi Barat).[6] Bagi Lyotard, hal ini mendesak dilakukan agar narasi-narasi kecil (seperti narasi dari Timur) memiliki ruang untuk mengartikulasikan jati dirinya. Persis inilah yang diperjuangkan Said melalui teori postkolonialnya.

Namun, Said di sini mengingatkan bahwa ada perbedaan antara postmodernisme dan postkolonialisme.[7] Postmodernisme, demikian Said, muncul dari luar modernisme. Artinya, postmodernisme, yang mengkritik dan menolak modernisme, baru muncul setelah modernisme berakhir. Sementara postkolonialisme, lanjut Said, muncul sejak pertama kali berkontak dengan kolonialisme. Artinya, postkolonialisme tidak identik begitu saja dengan “setelah kolonialisme”.

Postkolonialisme merupakan suatu kebutuhan bangsa-bangsa yang pernah menjadi korban imperialisme untuk menemukan dan merumuskan identitas kebangsaannya, tanpa dipengaruhi aneka konsep atau pandangan yang cenderung universalis dan Eropa-sentris. Postkolonialisme, menurut Said, membawa suatu misi mulia, yaitu berusaha menyadarkan liyan agar mampu melawan segala bentuk dogma Barat yang muncul berdasarkan serangkaian penelitian dan wacana yang diciptakan secara sepihak. Dengan kata lain, postkolonialisme membawa pembebasan bagi liyan serta memampukan mereka untuk merumuskan jati diri mereka sendiri.

Dalam postkolonialisme, semua orang—terutama masyarakat Timur yang acap dilihat sebagai liyan oleh Barat—memiliki hak untuk bersuara dan mepertahankan identitas dirinya dari segala bentuk objektivasi pihak luar (yang merasa lebih unggul dan mulia). Dengan usaha ini, apa yang dinamakan sebagai Strategic Essentialism dapat terwujud, yaitu suatu ruang diskursus di mana bangsa-bangsa Timur dapat memformulasikan sendiri identitasnya demi kemajuan komunitasnya. Mereka mewacanakan identitasnya berdasarkan pilihan dan kesadaran mereka sendiri sebagai satu komunitas, bukan berdasarkan pengamatan hegemonik pihak lain.

So What?

Dari uraian ini, kita menjadi yakin bahwa postkolonialisme tidak hanya mendorong kemunculan narasi-narasi kecil, tetapi juga mendorong studi-studi tentang kebudayaan (cultural studies), feminisme, studi bahasa dan sastra, dan sebagainya. Dengan demikian, postkolonialisme menjadi strategi teoretis dan politis untuk membongkar hegemoni dan dominasi Barat agar ruang mahalebar yang bernama ‘emansipasi’ dapat tersingkap. Inilah tujuan akhir sekaligus pesan penting dari teori postkolonial Said: emansipasi. Ini menjadi harga mati baginya dan (seharusnya juga) bagi kita! (Joan Udu)




Daftar Pustaka

Ashcroft, Bill, dkk.,ed.The Post-colonial Studies Reader. London & New York: Routledge, 1994.
Gilbert,Bart Moore. Postcolonial Theory. London & New York: Verso, 1997.
Lyotard, Jean-Francois.Posmodernisme: Krisis dan Masa Depan Pengetahuan, penerj. Kamaludin. Bandung: Mizan, 2004.
Said, Edward.Orientalisme, penerj. Asep Hikmat. Bandung: Pustaka, 2001.



[1] Sebagian besar pembahasan pada bagian ini dirangkum dan dikembangkan dari Bart Moore-Gilbert, Postcolonial Theory (London & New York: Verso, 1997), 34-73.
[2] Edward Said, Orientalisme, penerj. Asep Hikmat (Bandung: Pustaka, 2001), 3.
[3] Edward Said, Orientalisme, 4.
[4] Edward Said, Orientalisme, 18.
[5] Penjelasan pada bagian ini merupakan hasil sintesis dan pengembangan dari tiga sumber utama, yaitu Bart Moore-Gilbert, Postcolonial Theory, 1-73, buka Edward Said yang berjudul Orientalisme—diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh  Asep Hikmat (Bandung: Pustaka, 2001), dan buku Bill Ashcroft, dkk.,ed., The Post-colonial Studies Reader (London & New York: Routledge, 1994).
[6]Jean-Francois Lyotard, Posmodernisme: Krisis dan Masa Depan Pengetahuan, penerj. Kamaludin (Bandung: Mizan, 2004), 27.
[7] Bill Ashcroft, dkk.,ed., The Post-colonial Studies Reader (London & New York: Routledge, 1994), 117.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4