Dampak Bom Atom dan Pergulatan Eksistensial Empat Fisikawan


YouTube, diupload oleh Jawa Pos

Diringkas dari: 
Berton J. Berstein, “Four Physicists and the Bomb: The Early Years, 1945-1950”, dalam Historical Studies in the Physical and Biological Sciences (diterbitkan oleh  University of California Press), Vol. 18, No. 2 (1988), 231-263.

Bom atom pertama, yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, membunuh sekurang-kurangnya 70.000 penduduk Jepang. Panglima Proyek Manhattan, Jendral Leslie Groves, begitu bangga melihat keberhasilan misi ini. Namun, tak sedikit orang juga mengutuknya, termasuk beberapa ilmuwan dan kerabat empat fisikawan (Arthur H. Compton, Ernest O. Lawrence, Enrico Fermi, dan J. Robert Oppenheimer) yang terlibat dalam perancangan bom itu.

Maria, saudari Enrico Fermi, adalah salah satu yang mengutuk serangan itu dengan keras. “Semua orang di sini bingung dan limbung dengan efek yang mengerikan dari bom itu, dan dengan meningkatnya kebingungan itu, untuk bagian saya, saya serahkan engkau kepada Tuhan, di mana hanya Dia sendiri yang dapat menghakimimu secara moral,” tulis Maria (dari Italia) dalam sebuah surat kepada Fermi.

Selain Maria, fisikawan Karl Darrow juga mengutuk serangan yang mengerikan itu. Untuk menanggapi Darrow, Lawrence secara temperamental menulis, “Mengingat fakta bahwa dua bom itu mengakhiri perang, saya cenderung merasa sudah membuat keputusan yang benar. Pastinya lebih banyak kehidupan yang diselamatkan dengan mempersingkat perang daripada yang dikorbankan sebagai hasil dari bom tersebut.”

Lawrence di sini sama sekali tidak mau menyatakan penyesalan apa pun. Ia bahkan menemukan nilai lebih pada serangan bom atom itu: serangan tersebut membuat perang terlalu mengerikan untuk diulangi. Baginya, pemanfaatan energi atom dalam senjata perang tidak akan dianggap sebagai tanda malapetaka umat manusia, tetapi justru dilihat sebagai langkah awal penaklukan manusia dalam ranah-ranah baru alam semesta untuk perbaikan dan kesejahteraannya sendiri.

Argumen serupa juga muncul dalam jawaban Compton manakala menanggapi kenalannya yang mengutuk keputusan serangan bom atom tersebut. “Saya menyukai penggunaan bom itu, secara substansial sebagaimana digunakan (di Jepang), dan kini percaya bahwa ini merupakan sesuatu yang bijak”. Kurang lebih seperti Lawrence, Compton di sini hendak menekankan pentingnya serangan bom itu untuk kepentingan jangka panjang umat manusia. Baginya, di hadapan Tuhan, hati nurani mereka bersuara dengan jelas, di mana mereka sudah membuat pilihan terbaik untuk masa depan manusia.

Namun, secara tak langsung, ia mengakui bahwa penggunaan bom atom itu memang mengerikan secara moral, tetapi menurutnya hal itu tidak begitu buruk daripada pengeboman skala besar lainnya. Oleh karena itu, pada Perang Dunia II ini, yang merupakan suatu masa perang total, pembedaan moral yang lama dihargai antara masyarakat sipil (non-combatans) dan militer (combatants) tidak lagi bermakna, sebab orang-orang di depan rumah di Jepang, sebagaimana di Amerika, sudah membuat senjata atau menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan oleh tentara. Maka, warga sipil tidak kurang berbahaya daripada tantara, sebab (di Jepang) keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk memulai dan melangsungkan perang. Dengan demikian, menurut Compton, tidaklah bermasalah jika warga sipil juga ikut dikorbankan oleh serangan bom itu.

Oppenheimer juga memiliki pendapat yang serupa. Ia memang mangakui bahwa senjata itu merupakan sesuatu yang jahat, namun penggunaannya mendesak pada Perang Dunia II. Pada tataran ini, menurut Oppenheimer, serangan bom itu mengangkat kembali pertanyaan terkait apakah baik belajar tentang dunia, untuk coba memahaminya, untuk coba mengontrolnya, untuk membantu memberikan kepada dunia suatu wawasan dan kekuatan baru. Jawabannya, menurutnya, jelas, “Karena kita ilmuwan, kita harus katakana ya terhadap pertanyaan-pertanyaan itu dan jawaban itu tidak dapat diubah.” Sains “adalah baik pada dirinya sendiri”.

Pergulatan Moral

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa serangan bom atom yang mengerikan itu sebenarnya menimbulkan pergulatan moral tersendiri dalam diri empat fisikawan itu. Hal itu nampak dalam nasihat mereka kepada Washington seminggu setelah peristiwa Hiroshima. Mereka tiba-tiba menganjurkan agar Amerika sebaiknya menghindari perlombaan senjata nuklir dengan mencari kontrol internasional, dalam rangka melakukan pembatasan perang. Namun, dari empat fisikawan itu, Lawrence tampaknya masih siap melanjutkan pengembangan senjata nuklir itu, sementara Oppeheimer dan Compton tampak tidak antusias.

Bagi Lawrence, selama Amerika menginginkan angkatan bersenjata yang kuat, pemerintah harus melanjutkan pengembangan intensif terhadap senjata atom. Sebaliknya, menurut Compton, hal itu kemungkinan hanya akan mengarah pada perlombaan senjata. Akan tetapi, dalam konteks dilema ini, mereka sepakat bahwa kontrol internasional terhadap penggunaan senjata atom sangat diperlukan, sebab bagi mereka keselamatan Amerika tidak bisa diletakkan pada kekuatan sains dan teknologi, tetapi pada upaya untuk mengakhiri perang.

Namun, Sekretaris Negara, James F. Byrnes, tidak tertarik pada kontrol internasional dan menginkan sesuatu yang lebih besar, yaitu persediaan senjata nuklir yang lebih baik. Pemerintah Amerika bahkan sudah mulai memikirkan pembuatan senjata termonuklir (H-bomb atau Superweapon), yang kekuatan ledakannya melebihi bom atom. Hal itu ditempuh pemerintah untuk keamanan dan kepentingan nasional. Untuk menanggapi rencana ini, empat fisikawan itu lantas membuat suatu keputusan berdasarkan “alasan moral” (moral grounds) untuk menentang pencarian senjata termonuklir itu.

Bagi mereka, bukan upaya seperti itu (merancang bom super) yang seharusnya diinvestasikan oleh Amerika, tetapi ikhtiar untuk mengakhiri perang, sebab dampak dari pengembangan senjata itu akan jauh lebih besar daripada sebelumnya. Oleh karena itu, empat ilmuwan itu berharap agar upaya pencarian bom super itu dihentikan. Mereka tidak mau melihat suatu bencana kemanusiaan yang lebih besar lagi terjadi di muka bumi.

Ini adalah nasihat kemanusiaan yang mereka tempatkan di atas patriotisme dan nasihat kehidupan yang mereka tempatkan di atas nasionalisme.  Bagi mereka, jika rencana tersebut tidak bisa dikendalikan, maka beberapa sains telah menjadi begitu berbahaya. Akan tetapi, pemerintah Amerika terus berkukuh mengembangkan senjata super itu, khususnya pada waktu Perang Dingin menjadi lebih menakutkan dan usaha Amerika dalam melakukan kontrol internasional terhadap energi atom tidak berhasil.

Sains dan Negara

Keterlibatan Compton, Fermi, Lawrence, dan Oppenheimer dalam Proyek Manhattan memperlihatkan suatu relasi baru antara sains dan negara. Hal ini semakin kuat pada masa setelah Perang Dunia II. Dalam konteks ini, Fermi cenderung memilih diam dalam masalah-masalah moral yang ditimbulkan dari relasi itu, meskipun pada akhir 1949 ia menentang bom super itu. Lawrence, yang mungkin lebih intoleran daripada Fermi, memilih mendukung upaya negara dalam meneruskan perlombaan senjata nuklir dan akhirnya juga mendukung pencarian bom super.

Compton, yang menyadari dirinya sebagai seorang Presbyterian yang religius, berusaha untuk mengharmoniskan Kristianitasnya dengan nasihatnya tentang senjata, dan lantas berkahir dengan “pertentangan moral” yang tidak ia akui. Oppenheimer, yang sering ambivalen, menjadi orang yang paling kuat secara politis pada tahun-tahun ini, di mana ia bertugas sebagai penasihat Washington untuk hal-hal yang sebenarnya tidak ia suka, tetapi tidak bisa ia tinggalkan.

Apa yang sudah diciptakan empat ilmuwan itu pada akhirnya tidak bisa mereka kontrol sendiri. Oppenheimer secara lugas mengungkapkan hal itu, “Dalam semacam perasaan kasar yang tidak ada kekasaran, tidak ada humor, tidak ada pernyataan berlebihan yang bisa dipadamkan, fisikawan telah mengetahui dosa; dan ini adalah pengetahuan yang tidak bisa mereka hilangkan.”

Lawrence secara khas menolak kata-kata Oppenheimer: “Saya adalah seorang fisikawan dan saya tidak mempunyai pengetahuan untuk dihilangkan […].” Namun, pada tahun-tahun kemudian, Oppenheimer menjelaskan apa yang dimaksudkannya: “Saya tidak memaksudkan (dosa) kematian yang disebabkan sebagai akibat dari pekerjaan kami. Yang saya maksudkan adalah bahwa kita telah mengetahui dosa kesombongan […]. Kita memiliki kebanggaan dalam berpikir bahwa kita tahu apa yang baik bagi manusia, dan saya pikir itu tampak dalam diri banyak orang yang terlibat secara bertanggung jawab (dalam serangan bom atom di Jepang). Ini bukan urusan alamiah seorang ilmuwan.”

Kesimpulan

Nasihat dan kinerja empat fisikawan tersebut sangat penting dalam proses penemuan, peningkatan, dan legitimasi persediaan senjata nuklir Amerika. Mereka adalah manusia yang memiliki kekuatan berkat pengetahuan dan keahlian mereka, namun mempunyai sedikit kapasitas untuk mengubah arah perlombaan senjata pasca-perang. Mereka membentuk suatu model kemungkinan teknologi-saintifik, di mana darinya pembuat kebijakan, kadang termasuk presiden sendiri, memilih senjata yang dianggap perlu untuk kebijakan dan urusan luar negeri Amerika.

Beberapa akan berpendapat bahwa perlombaaan persenjataan nuklir, terlepas dari kewajiban mereka, merupakan sesuatu yang perlu disesali, dan yang lain melihat bahwa baik strategi maupun bom itu sendiri merupakan sesuatu yang jahat. Argumen-argumen seperti itu menjadi bagian mendalam dari pengalaman Oppenheimer, Fermi, Lawrence, dan Compton dalam “dunia baru” persenjataan nuklir. Apa yang mereka bantu ciptakan, beberapa merayakannya, beberapa mengutuknya, banyak yang sesali, dan mungkin beberapa akan sesali sekaligus rayakan. Itu semua menjadi bagian dari pergulatan eksistensial mereka. (Joan Udu)


Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Post 1

Ads Post 2

Ads Post 3

Ads Post 4